Tuesday, April 17, 2012

About Flight and Life

Penerbangan pagi ini lancar. Cuaca juga cerah. Langit biru bersih.
Namun sebersih apa pun langit, penerbangan tidak selalu halus.
Tidak ada awan tebal yang perlu diterjang namun tetap saja masih ada awan

Aku menutup buku yang dari awal masuk pesawat kubaca. Ingin menikmati penerbangan.
Aku melihat ke luar jendela. Dan aku merasakan detail gerakan pesawat. Tidak terlihat ada awan, tapi pesawat bergetar seperti menerjang awan.



Kemudian aku pun berpikir..
Terkadang hidup terlihat tanpa halangan, bersih dari rintangan. Sama seperti penerbanganku kali ini.
Namun nyatanya tidak seperti yang terlihat. Ada saja yang perlu diterjang.
Ada awan tak terlihat yang harus dilewati.
Hidup tak pernah lancar. Awan-awan hidup selalu ada, besar atau kecil.
Kita yang jadi pilot, yang mengarahkan pesawat hidup kita.
Kita yang menentukan apakah kita mau melewati awan itu atau tidak.
Sebenarnya sudah tidak ada pilihan. Ketika sudah ada di langit, pesawat tak bisa turun begitu saja.
Ketika hidup sudah setengah jalan, tidak mungkin berhenti begitu saja. Hidup harus diteruskan.

Sekitar 50 menit aku berada di dalam pesawat. Saatnya landing. Saat-saat yang aku suka (walaupun banyak orang tidak suka "sensasi" landing). Ketika landing itu, ada sesuatu yang "mengagetkan". Walaupun penumpang sudah tahu bagaimana rasanya, tetap saja ketika roda pesawat menyentuh tanah (aspal lebih tepatnya), ada yang kaget. Sensasi itulah yang banyak tidak disuka penumpang. Tapi aku suka. Ketika roda itu menyentuh tanah (aspal), sekeras apa pun, itu menandakan aku sudah sampai di tempat tujuanku.

Demikian juga hidup. Mungkin saja ketika ada pukulan keras yang menghantam, itu merupakan tanda bahwa kita sudah dekat pada tujuan hidup kita. Jadi kenapa harus takut? Nikmati saja sensasi itu. Dan kemudian sampailah pada tujuanmu. :)

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget