Monday, May 14, 2012

Ingatlah Bahwa Kita Diberkati

Setelah memberi les privat, aku putuskan untuk makan siang di dekat Stadion Diponegoro. Saat makan, seorang bapak datang. bapak itu kira-kira berumur 45 tahun. Sehat, bagian tubuh lengkap dan berfungsi baik, kecuali (mungkin) kemampuan bicaranya. Aku tidak terlalu mengerti yang diucapkan bapak itu. Kalau aku tebak, bapak itu meminta uang. Cukup lama dia berdiri di depanku entah menggumamkan apa. Penjaga warung pun memanggil bapak itu dan menegurnya, "nek ora gelem ngenehi, ojo dipekso" (Jawa: kalau tidak mau memberi, jangan dipaksa), dan mengusir bapak itu.

"Kenapa bapak ini tidak mencari pekerjaan? Lebih baik mengamen atau menyemir sepatu daripada mengemis." Itu yang aku pikirkan ketika bapak itu datang. Setelah bapak tu pergi, aku mulai berpikir: bicara pun susah, bagaimana mau mengamen? Modal uang juga tidak ada, bagaimana bisa membeli semir sepatu?

Menyesal. Kenapa tidak segera aku menolong bapak itu?

Sesaat aku teringat perkataan pastor pendampingku, "di dalam doa tobat disebutkan: ... bahwa saya telah berdosa, dengan pikiran dan perkataan, perbuatan dan kelalaian."

Dalam kasus ini, aku lalai. Aku terlalu sibuk memikirkan apa yang dilakukan bapak itu (meminta-minta) sehingga tidak rela menyisihkan sedikit berkatku.

Setelah membayar, aku mencari bapak itu, Tapi tidak terlihat lagi. Entah pergi ke mana.
"Maafkan aku, Pak. Sekarang aku hanya bisa berikan doa agar ada seorang baik yang menolong Bapak."

Aku pun memutuskan untuk pulang. Di perjalanan pulang, aku teringat untuk membeli sesuatu di ACE Hardware. Akhirnya aku mampir sebentar. Aku memarkir motorku di depan ACE Hardware. Belum sempat turun dari motor, ada seorang ibu menghampiri. "Mbak, mau beli kaset?"
"Kaset apa?" tanyaku.
"Ini," sambil menunjukkan dua buah VCD. Yang satu Dangdut Koplo, yang lain VCD tentang Gandhi. "uangnya mau saya pakai buat beli susu, Mbak," lanjutnya.

Aku tidak langsung membeli VCD itu. Bukan karena takut tertipu, tapi karena tergelitik ingin tahu cerita hidupnya.

Suami ibu itu sudah meninggal. Mereka punya dua orang buah hati, keduanya putri. Buah hati yang pertama terpaksa diberikan ke panti asuhan karena tidak sanggup membiayai. Buah hati yang kedua (yang saat ini bersamanya) berumur 3 tahun. Nama anak itu Vera. Nah, ibu itu menjual VCD dan pakaian bekas untuk membeli susu untuk Vera, untuk makan, dan untuk kembali ke Solo.

Aku pun semakin tertarik dengan ceritanya. Ibu itu (aku lupa namanya, karena hanya punya nama dalam bahasa Cina) ke Semarang bersama Vera untuk mencari temannya dan meminjam uang. Tapi tidak bisa menemukannya. Akhirnya mereka berdua berusaha bertahan hidup di Semarang tanpa punya seorang untuk menolong.

Si suami dulu hanya pekerja serabutan. Si ibu dan suaminya sebenarnya ingin punya usaha sendiri. Mereka pernah jual gorengan di Solo, namun belum berhasil karena modal mereka hanya 50.000 rupiah. Tanpa disangka, si suami meninggal karena kecelakaan saat menyeberang jalan. Tinggallah si ibu dengan Vera.

Di sela-sela percakapan, ibu itu selalu menegur Vera karena sering menyentuh motorku atau bermain-main dengan helmku. Memang sedikit aktif, namun itu yang membuatku tertarik. Ketika aku menanyakan tentang pendidikan Vera, ibu itu hanya bilang, "kalau ada orang baik yang mau membagi rezekinya, mungkin Vera bisa sekolah."

"Dek Vera mau sekolah?" tanyaku.
"Mau, Mbak." wajahnya tetap polos sambil melihat gambar Puca di helmku.
Kata si ibu, Vera sering meminta untuk sekolah. Katanya lagi, kalau memang tidak sanggup membiayai, Vera akan diberikan ke panti asuhan juga, menyusul kakaknya.

Aku belum sampai tahap membiayai sekolah. Aku ingat Love for Children (sebuah program yang aku dan teman-teman buat). Aku ingin menawarinya untuk belajar bersama di Love for Children. Tapi mereka kan dari Solo. Pasti ada cara untuk membantu mereka.

Akhirnya aku membeli dua keping VCD seharga 20.000 rupiah, dan memberikan nomor teleponku. Suatu saat, kalau memang ada kesempatan dan ibu itu menghubungiku, mungkin berkat yang bisa aku bagikan ke mereka lebih dari hari ini. Mungkin Love for Children bisa membantu mereka.

Sepanjang perjalanan pulang, cerita ibu itu berputar di otakku. Aku tersenyum ketika melihat tulisan yang tertempel di kaca belakang sebuah mobil, "diberkati untuk memberkati"
Aku bersyukur karena aku telah Dia berkati dan kasihi, sehingga aku bisa menjadi berkat dan memberikan kasih.
Jadi ingatlah selalu bahwa berkat yang kita terima bukan untuk kita nikmati sendiri, namun Tuhan ingin kita pun menjadi berkat untuk sesama.
All peoples on earth will be blessed through you and your offspring. (Genesis 28 : 14 NIV)
We are blessed to be a blessing. God bless you. ^.^


nb: semoga kelalaianku yang pertama, telah terbayar dengan berkat yang kedua. :)


1 comment:

  1. aku juga pernah kyk kejadian yang pertama miss, tapi tokohnya seorang anak kecil perempuan penjual koran
    (cika)

    ReplyDelete

There was an error in this gadget