Thursday, November 8, 2012

My Very(Extra)Short Visit to Kupang


~Travel Time!~ – 2 November 2012

Short? It is, as usual.

Well, my flight is on Friday, at 6 a.m. (as usual again).
Sudah mulai terbiasa untuk bangun pagi, gosok gigi, cuci muka, dan berangkat ke Bandar Udara Adi Soetjipto, Yogyakarta. Mandi? Bisa nantilah di tempat tujuan, toh no one knows (except you and other readers :p ). Flight dengan maskapai LA sudah biasa on time, jadi memang on time. Mendarat di Bandar Udara Ir. H. Juanda, Surabaya pukul 7 lewat 15 menit. Saatnya menunggu.
Coffee Bean jadi tempat yang perfect. Kopi! Itu yang sangat aku butuhkan. Kopi dan buku, pasangan sempurna. Tapi di situ ada yang menarik perhatian. Para penumpang lain, yang sama-sama sedang menunggu, menarik perhatianku. Sejenak aku lepas pandangan dari Kitab Teater milik N. Riantiarno. Di tengah mengamati, aku mencari kertas, untunglah ada (aku lupa membawa buku kecil bergambar Mickey Mouse ku). Dan tanganku mulai bergerak …

Para wanita terlelap
terbang ke alam khayal
sebelum raga terbang dibawa si burung besi
melepas lelah, usir beban di mata

Para pria tetap terjaga
memandang teve
yang siarkan ajaran hidup
dari seorang rock star local terkenal

Di samping mereka
berderet café dan resto
penuh dengan yang berdandan necis
dengan rambut hitam atau pirang

Wanita
Pria
dan
Si Necis
menunggu bersama

Pukul 9, akhirnya kuputuskan menuju waiting room. Rikuh juga lama-lama nongkrong di Coffee Bean, padahal hanya beli secangkir Capuccino (maklum, dana terbatas).
Di waiting room, N. Riantiarno masih setia menemaniku dengan kitabnya. Di tengah asik memahami isi kitab, ada seorang gadis kecil yang membuat keisengan. Lucu.

Gadis kecil berbalut dress oranye
dengan rambut cepak
mencoba kekuatan kakinya
berlarian mengelilingi waiting room
dengan tangan terbuka
seolah sedang menjadi seekor burung
atau menirukan burung besi yang dilihatnya
lalu berhenti
mengambil sandal dengan hak sedang
memakainya berkeliling
berhenti lagi
“kurang tinggi,” mungkin itu pikirnya
Wedges ibunya pun jadi sasaran
hanya satu, bukan sepasang
terpincang menuju kaca pembatas
menendangnya beberapa kali
entah penasaran atau hanya iseng
aku miris, takut pecah
Lalu gadis llincah itu terdiam
seiring teriakan ibunya yang bercampur marah
Dia terduduk tanpa suara
di atas lantai

Hanya (sedikit) merasa kasihan dengan anak itu. Dia lincah, sepertinya cerdas karena suka memperhatikan dan punya rasa ingin tahu yang besar. Ibunya memarahinya dengan membentak dengan suara nyaring, di tempat umum. Betapa malunya anak itu. Dan dibiarkan saja duduk terdiam di lantai. Sudahlah, apa pula urusanku dengan cara ibunya marah atau dengan kesedihan gadis kecil itu. Mataku kembali mengamati kata-kata dalam kitab di pangkuanku.

Pukul 10 lebih 50 menit, saatnya boarding. Benar-benar tepat waktu. Sang burung besi dengan gagah meninggalkan landasan Surabaya pukul 11 lebih 20 menit. Tiga puluh menit menunggu di dalam pesawat biasanya membuatku tidak betah. Tapi kali ini beda. Ada seorang yang menarik perhatian. Pramugara yang (bisa dibilang) punya tampang lumayan. Ketika peragaan pemakaiann pelampung dan kawan-kawannya itu, si pramugara ganteng itu di bagian depan. Agak terhalang oleh pramugara di tengah. Dudukku memang agak belakang. Tapi dengan beberapa trick, aku bisa melihatnya. J Dan jadilah puisi gaje (ga jelas) ku,

Tubuh tegap ukuran bule
dibalut seragam putih-biru dongker
ketat model pramugara
wajah tampan khas Indonesia
dihiasi cambang ciri Timur Tengah
dengan hidung model Arab

Alamak,
sudut mataku mencuri pandang
berdiri penuh wibawa lakukan tugas
Ah, masa bodoh dengan yang dia peragakan
tak peduli bagaimana cara memakai life vest
tak mau tahu apa itu oxygen mask

Hanya sungging senyum di bibir ala Brad Pitt
yang menggodaku jadi perhatian
dan otakku mulai iseng berpikir
andai ...

Setelah lepas landas, walaupun aku terlihat membaca kitab, tapi fokusku tidak pada isi kitab itu. Aku senyum-senyum mengingat puisi yang aku tulis itu (lebih tepatnya mengingat si pramugara). Aku sempat membaca name tag di dadanya dan berniat mencarinya di social media #eeaaa…

Penerbangan hampir 2 jam terasa cukup singkat karena otakku sibuk memikirkan hal lain. Mendarat di Bandar Udara El Tari, Kupang pukul 14.30 WITA. Oh no, aku kehilangan satu jam lagi! #lebay
El Tari Airport, Kupang, East Nusa Tenggara

Aku memakai jasa taksi bandara untuk ke hotel. Biaya taksi Rp. 60.000. Sempat terkena serangan culture shock di dalam taksi.
Begini ceritanya, si driver berusaha ramah dengan menanyakan sesuatu, tapi aku tidak menangkap pertanyaannya karena menggunakan bahasa lokal. Ketika kutanya, “apa?” dia tidak kembali menjelaskan, malah diam. Okay, mungkin dia juga bingung. Kemudian dia meminta izinku untuk mampir sebentar, menyerahkan handphonenya untuk diisi baterai. Dengan tenaga seadanya aku mengiyakan. Mungkin untuk dia suaraku terlalu pelan. Mungkin dia menganggap aku marah atau tidak suka kalau mampir. Aku sedang memperhatikan teman yang dia panggil yang berjalan sangat lambat. Tiba-tiba si driver teriak, “CEPAT!” dengan nada khas. Sebenarnya aku bukan kaget dengan caranya berbicara, tapi saat itu memang sedang fokus memperhatikan temannya #ngeles
Sepanjang jalan jadi diamlah aku, daripada bertanya dan tidak mengerti apa jawaban dari dia. Cari aman saja., diam itu emas.

Sampai di hotel Sylvia, aku diminta menunggu karena kamar sedang dibersihkan. Agak sebal juga, tapi membawa kebaikan. ^_^
Fyi, harga kamar standard dengan fasilitas AC, TV cable (walaupun channelnya hanya sedikit), air panas, dan kamar yang bersih dan nyaman adalah Rp 300.000/malam.

Kembali ke cerita, ketika menunggu ada rombongan maskapai yang aku pakai tadi. Dua wanita dan empat pria. Aku mengenali wajah dua pria yang masuk. Yang satu adalah pramugara yang tadi memeragakan safety procedure di tengah, dan yang satu lagi di depan a.k.a si pramugara yang ada di puisi gaje-ku. terjadi sebuah percakapan antara aku dan seorang pramugara, dan akhirnya aku tahu kalau mereka akan berangkat lagi keesokan harinya pukul 4.45 pagi. Sedikit kecewa karena berarti aku tidak akan mendapat pramugara yang sama. Tak apa, ada sosial media. Akan kucari dia J
Ratna and the sunset at Tedis Beach
Sambal Lu'at

Setelah sejenak beristirahat (dan tentunya mengirim email berkenaan dengan pekerjaan) dan menikmati lunch yang tertunda, sore hari berjumpalah dengan dua orang teman, Ratna dan Andri. Pantai Tedis jadi tujuan pertama. Inginnya menikmati matahari terbenam, tapi sudah terlalu sore. hanya dapat beberapa menit saja. Akhirnya menikmati jagung bakar dengan butter dan Sambal Lu’at (sambal khas Kupang). Setelah itu, kita berjalan untuk membeli oleh-oleh (titipan, lebih tepatnya) dan kembali ke hotel pukul 8 malam. Terlalu awal sebenarnya untukku. Tapi biarlah, bingung juga mau ke mana.


~Day two~ 3 November 2012
Sarapan di hotel tidak terlalu memuaskan, yang penting mengisi perutlah. Pantai Lasiana menjadi tempat tujuan kedua. Perjalanan sekitar 30 menit menggunakan sepeda motor dari hotel.

Menikmati panasnya Kupang sambil berjalan di pantai. Membentuk huruf-huruf VDMS dan AA di atas pasir dengan menggunakan batu-batuan warna warni yang tersebar di atas pasir yang bersih.

VDMS singkatan van Deventer-Maas Stichting, tempatku bekerja dan yang memberiku kesempatan menginjak tanah Kupang ini. AA singkatan dari Alumni Association, alasan mengapa kakiku bisa menyentuh tanah Kupang.

Setelah puas panas-panasan, saatnya memanaskan mesin di perut. Buah Saboak dan Pisang gepe jadi santapan. Kalau di kota asal, buah saboak dikenal dengan siwalan, dan pisang gepe dikenal dengan pisang planet atau pisang penyet. Dua buah siwalan seharga Rp 5.000 dan pisang gepe coklat keju Rp. 20.000 cukup menjadi makanan pembuka.


Saatnya menuju tempat makan siang yang sebenarnya. Warung Petra Se’i Babi di daerah Oebufu jadi sasaran, 30 menit dari Pantai Lasiana . Tidak semua bisa makan di sana, terutama untuk mereka yang tidak makan daging merah yang satu ini. Konsep Se’i adalah daging asap (biasanya memang daging babi, tapi ada yang sapi juga), tapi di warung ini lebih cenderung ke daging setengah bakar. Mungkin karena kalau di asap saja, will take longer time. Warung ini buka mulai pagi (sekitar pukul 9) sampai habis (biasanya pukul 12 atau 1 siang). Mereka hanya membatasi, hanya memasak satu ekor babi saja sehari. Prinsip yang bagus.
Pork Soup
Se'i Babi (Smoked Pork)

Inilah menu makan siangku:
Se’i dengan nasi Rp. 10.000
Sup Rp. 5.000
Es teh manis (aku minum dua) @ Rp. 5.000
Cukup mengenyangkan untukku.






Kembali ke hotel, mengetik cerita ini dan mempersiapkan rapat nanti sore.

Alumni Meeting berjalan lancar dan (sangat) sukses. Target peserta 20 alumni, ternyata total semua 42 manusia! WOW! A record attendance. Glad to meet new friends there. :)
vDMS Alumni Regional Meeting - Kupang

Acara berlangsung dari pukul 4 sore sampai sekitar 8 malam di Subasuka Paradise, Cafe and Resto. Perpisahan sungguh tidak sesuatu banget >.<

Setelah acara usai, melunasi pembayaran, dan kembalilah ke hotel. Kelaparan tengah malam itu menyiksa. Fortunately, resto hotel Sylvia buka 24 jam. Tinggal angkat gagang telpon, pencet nomor dan pesan. 30 menit pesanan datang. Omelet jamur dan Susu coklat seharga Rp 26.000 siap mengantarku ke tidur yang lelap.

~Last Day~ 4 November 2012

Sarapan di hotel lagi yang tidak menggugah selera.
Hari Minggu diawali dengan ibadat ke Rumah Tuhan, Gereja Katedral Kristus Raja. Misa dimulai pukul 7.15 dan selesai sekitar pukul 8.30.
Makan Uskup Agung Kupang
yang berada di depan Gereja Katedral Kupang

Setelah dari gereja, kita lanjutkan dengan makan bakso di Ratu Sari (lupa alamat pastinya). Semangkok bakso (yang mak nyuss) seharga Rp 10.000. Harga standard lah. :)
Bakso Ratu Sari












Dalam obrolan, Andri mencetuskan untuk mengunjungi tempat pembuata sasando (alat musik tradisional). Tempat di mana Jeremia Pah tinggal. Sayangnya, perjalanan harus ditempuh selama 1,5 sampai 2 jam menggunakan bemo (angkota) atau satu jam dengan motor. Saat itu jam 11 dan harus kembali ke hotel jam 1 untuk check out. Sepertinya tidak memungkinkan. Lain waktu pasti ke sana.
Way to Oenesu waterfall
Way to Oenesu waterfall

Akhirnya kita ke air terjun Oenesu. Perjalanan dengan motor sekitar 30 menit dengan pemandangan yang cukup memanjakan mata, walau kadang harus melewati jalan yang tidak mulus.
Sesampai di sana, tidak mantap kalau tidak merasakan airnya. Walaupun tidak membawa baju ganti, setelah melalui pertimbangan yang panjang, akhirnya berani juga memanjat air terjun (walau sempat terpeleset dan meninggalkan memar di tangan), dan menceburkan diri ke air (yang tidak bening) tapi cukup menyegarkan. Perjalanan pulang harus betah dengan baju dan celana yang basah. Sampai di hotel, ganti pakaian, check out dan woooz ke Bandar Udara El Tari. Sebenarnya ingin ke Gua Jepang di daerah Baumata, tapi waktu tidak memungkinkan. :(

after a long consideration,
I decided to get wet! LoL
With Feri and Noy :)


Pukul 2 siang, saatnya tubby berpisah, saatnya tubby berpisah #gaya teletubies :D

Waktu untuk mengucapkan selamat tinggal, bukan, sampai jumpa kepada teman-teman. Belum puas berkeliling Kupang dan Nusa Tenggara Timur, membuatku bertekad untuk menabung dan berkeliling daerah itu di tahun 2014 (kalau belum kiamat yaa.. haha..)

Sampai jumpa, Kupang :)

At El Tari Airport
See you soon, fellas.
Andri - Noy - Jessi - Feri

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget