Friday, November 16, 2012

Skenarioku

: tanggapan untuk skenario Dwi Marleni

Kawan, kau punya skenario, aku pun punya.

Dengan setting yang sama, sebuah bandara. entah bandara mana yang kau maksud, tapi aku tahu bandara mana yang kumaksud. Beberapa malam yang lalu aku merangkai skenario ini.

Yang pertama kurangkai adalah yang indah:

Aku berjalan terburu-buru mengikuti petunjuk exit
dengan menggendong tas ranselku
dan tas slempang bermotif batik
lalu mataku mencari sosokmu

Kamu di sana
di kerumunan orang yang berjejal
Mengenakan kaos dan celana selutut dan sandal seadanya
Membawa sebuket bunga yang entah itu bunga apa

Kita bertemu
kau sodorkan bunga
aku tersenyum simpul dan tersipu malu
lalu berjalan menuju tempat kau parkirkan mobilmu


Ah, tapi itu tak masuk akal. Siapa dia dan siapa aku. Hanya tertawa bodoh pada diri sendiri. Lalu kuubah skenario itu menjadi:

Aku,
tetap dengan tas ransel dan slempang
tetap jalan terburu-buru mengikuti arah exit
masih dengan mata yang memburu sosokmu

Kamu,
di antara kerumunan
mengenakan kaos dan celana selutut dan sandal seadanya
tanpa bunga, hanya dengan senyum

Kita bertemu,
berjabat tangan
mengucapkan "hai" dan "halo"
kemudian berjalan bersama menuju tempat parkir

Atau skenario ketiga atau keempatku yang, ah, tak tega aku membayangkannya lagi. Tinggal berharap saja skenario mana yang akan dipentaskan.

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget