Tuesday, March 26, 2013

Telepon Tak Terduga

Pagi-pagi sekali hapeku melantunkan lagu Muda-nya Agnes Monica. Aku mencari hapeku dan segera menggeser tombol hijau di layar sentuh.

"Halo," sapaku pada pemilik nomor tak dikenal itu.


"Halo, J. Aku Syifa," aku mengingat-ingat siapa Syifa.

"Ada apa?" tanyaku tanpa ingat siapa sebenarnya Syifa.

"J, I need someone to share with. Would you mind listening to my story?"

"Doesn't matter. Zup?"

"Aku tau semasa kuliah kita tidak dekat. Aku menemukan namamu di phone book, dan aku rasa kamu bisa membantuku."

Aku ingat sekarang. Syifa, teman kuliahku yang kecil dan manis itu. Dia tidak menonjol tapi cukup terkenal di kalangan pria.

"J, apa pendapatmu tentang virginity?"

"Apa, Fa? Virginity?"

Pagi seperti ini, ditelpon seorang kawan lama dan membicarakan virginity. Topik yang terlalu prematur untuk dibahas sebelum matahari bangun dari tidurnya.

"Ya, J. Seberapa pentingkah itu untukmu?"

"Virginity adalah sesuatu yang mewah. Tapi kemudian bagaimana menggunakannya terserah kita. Seperti ketika kita mendapat sebuah dress mewah. Kita boleh menyimpannya dengan rapi dan memakainya untuk event spesial. Atau kita bisa memakainya untuk pergi ke pesta-pesta kecil. Atau bisa juga memakainya dalam hidup sehari-hari." Jelasku.

"Jika dress itu disimpan dan memang sudah dikhususkan untuk satu event spesial, dress itu memang sangat spesial. Kita memperlakukannya dengan spesial, " lanjutku.

"Maksudmu kita harus menjaga diri tetap virgin sampai menikah?" Syifa mengkonfirmasi kesimpulannya.

"Ya. Tapi tidak semua memperlakukan dress itu sebegitu spesial. Ada yang tidak menunggu event spesial untuk memakainya. Dress adalah untuk pesta. Setiap ada pesta, dress itu dikenakan. Apa salah dengan itu? Menurutku tidak. Hanya saja kemudian dress itu jadi tidak begitu spesial lagi,"

"Apa itu diperbolehkan?"

"Boleh. Hanya saja kerabat kita akan berpikir dress itu begitu murahan."

"Jadi virginity bukan hal yang sakral?"

"Aku tidak bilang begitu. Aku hanya bilang virginity bulan hal yang sangat spesial. Tetap spesial, tapi tidak dapat perlakuan khusus."

"Dress itu tetap spesial karena tidak dipakai dalam sembarang event?"

"Seratus untuk Syifa."

"Lalu bagaimana yang ketiga?"

"Ada juga yang tidak menghargai dress itu. Dipakainya setiap hari. Apa pun yang dilakukannya, dress itu menempel di tubuhnya."

"Apa maksudmu ini makna virginity untuk para PSK?"

"Bisa jadi. PSK memakai dress itu karena tidak punya dress lain."

"Virginity adalah hal murahan yang bisa diumbar. Begitu maksudmu?"

"More or less."

"Untuk kamu sendiri, J, kamu akan memperlakukan dressmu seperti apa?

"Ah, itu urusanku, Fa. Kamu pikirkan saja dress kamu mau diapakan."

"Kalau aku pakai dressku ke setiap pesta yang akan kudatangi, apakah aku salah?"

"Aku sudah bilang, itu hak masing-masing orang untuk memutuskan bagaimana memperlakukan dressnya. Aku tidak berhak mengatakan salah atau benar."

"That's a wise answer. Thanks for that. It's nice to have this kind of discussion with you, J."

"My pleasure, Fa. By the way, how's life treating you?"

Kemudian kami lanjutkan percakapan tentang kehidupan kami setelah lulus kuliah.

Syifa, be tough and conquer the world!

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget