Monday, April 22, 2013

Review: Tulah Cinta Kuasa

teater-maraton.tumblr.com/


Suasana mistis tercipta di Beringin Soekarno, Realino, Universitas Sanata Dharma pada Sabtu malam (20/4/13). Beberapa anak muda yang menamai diri mereka Teater Maraton mementaskan sebuah lakon bertajuk ‘Tulah Cinta Kuasa’.

Jessica Permatasari, sutradara pementasan mengatakan, “lakon ini mengisahkan kehidupan Ken Arok mulai dari latar belakang kehidupannya sebagai rakyat kecil hingga menjadi Raja Singhasari dan mati.” Sindiran dan lelucon beraroma politik dan sosial disampaikan dalam dialog-dialog para pemeran.

Lakon yang dibungkus secara komedi aksi ini mampu memainkan perasaan penonton. “Kami menggarap lakon ini secara komedi karena kami ingin menunjukkan bahwa sejarah dapat jadi menarik tanpa mengubah cerita dan makna,” ujar Ani Hanifah selaku Pimpinan Produksi.
Wicaksono sebagai Asisten Sutradara menambahkan, “aksi dalam lakon ini ditampilkan sebagai penyeimbang supaya ada ketegangan dalam pementasan, karena memang lakon ini dasarnya adalah tragedi.”

Pesan yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa manusia, tanpa mengenal zaman, terikat dengan nafsu duniawinya. Nafsu itu yang kemudian melahirkan hal buruk dalam kehidupan. “Saat ini sebagian besar dari kita tidak percaya kutuk. Tapi percaya atau tidak, ketika kita menginginkan sesuatu dan tidak mendengar nurani, kita cenderung melakukan hal buruk yang merugikan diri sendiri dan orang lain,” ungkap Jessica.

Teater Maraton merupakan kelompok mandiri yang dibentuk karena kepedulian terhadap seni, khususnya teater. Anggota dari Teater Maraton terpilih dari sebuah audisi kecil pada 19 Februari 2013.

Dalam audisi kecil itulah terpilih para pemeran dalam Tulah Cinta Kuasa: Lamsakdir - Pengawal, Sepriyanto Dwi - Kebo Hijo, Carollina Swastika - Tita, Bernadetta Maria - Ken Endok, Davish Kevin - Ki Lembong 1 dan Pengawal, Muhammad Marhaban - Ki Lembong 2 dan Pengawal, Niko Dwi Aryanto - Lohgawe dan Pengawal, Wicaksono Bagus Pamungkas - Tunggul Ametung dan Anusapati, Bagus Suprayitno - Ken Arok, Rizki Fitria Ramadhani - Ken Dedes.

Selama proses pementasan Jeni Dwi Astuti selaku Stage Manager dibantu oleh tim. Tata musik diaransemen oleh Ariyo Priyo dan tata cahaya oleh Jati Pradipto. Artistik diatur oleh Ichwan Fachrudin. Yovita Anjani  sebagai penata kostum dan Reya Silvani sebagai penata rias. Publikasi ditangani oleh Pungky Andriyani dan Dokumentasi oleh Sepvia Suminar.

Acara yang terbuka untuk umum ini terselenggara berkat kerjasama dengan Stupa Community, Teater Seriboe Djendela, Lembaga Eksekutif Mahasiswa FIB UGM, Sanggar Seni R ‘n B, dan Urkes Dangdut Soeryati (sebagai penampilan penutup). Sebagai media partner, Info Seni Jogja dan Geronimo FM juga membantu kesuksesan pementasan ini. -JP-

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget