Monday, April 1, 2013

Sebuah Kisah Tentang Keluarga Ajaib




Senin, 18 Februari 2013
Setelah membuat janji akhirnya hari ini saya bertemu dengan Ani Hanifah, seorang mahasiswi Institut Seni Indonesia jurusan Seni Rupa. Cafe Legend di Kotabaru menjadi pilihan (karena dekat dengan kos). Pukul 19.30 saya mulai menjelaskan tentang proyek yang ingin saya buat dan kendala-kendalanya. Tanpa basa basi saya meminta bantuannya untuk menjadi Pemimpin Produksi di proyek saya yang kedua ini. Ani tidak langsung mengiyakan, karena (katanya) dia ingin pensiun dari dunia teater dan fokus ke kuliahnya. Dengan jurus rayuan yang aku lancarkan, Ani takluk juga. :) Dan dicapailah kata sepakat: Ani Hanifah, PimPro "Tulah Cinta Kuasa"

Selasa, 26 Februari 2013
courtesy of @teatermaraton
Setelah melalui diskusi antara saya, Ani, dan Pungky (sebagai koordinator publikasi), akhirnya diputuskan tanggal ini untuk audisi pemeran. Publikasi dilakukan melalui berbagai media: Facebook, Twitter, dan (entah siapa yang memberi info) surat kabar lokal. Lima belas orang berkumpul di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) untuk mengikuti audisi. Saya cukup kaget (sekaligus senang) karena awalnya tidak menduga akan mendapat respon yang sangat positif dari teman-teman pencinta teater. Dari kelima belas orang tersebut, terpilihlah beberapa untuk berperan dalam teater Komedi Aksi "Tulah Cinta Kuasa". Namun, kami masih membutuhkan beberapa orang lagi. Kami mengadakan audisi lanjutan pada hari Rabu, 27 Februari 2013 di Djendelo Koffie. Tiga orang datang untuk diaudisi. Pada hari itu juga, terpilihlah beberapa 'tersangka' untuk berproses bersama:
Bagus Suprayitno: Ken Arok
Rizki Fitria Ramadhani: Ken Dedes
Wicaksono Bagus Pamungkas: Tunggul Ametung, Anusapati
Niko Dwi Aryanto: Lohgawe, pengawal
Nurgud: Yamadipati, Mpu Purwa
Bernadetta Maria: Ken Endok
Carollina: Tita
Theodorus Davish Kevin: Ki Lembong, pengawal
Marhaban: Mpu Gandring
Sepriyanto Dwi: Kebo Hijo
Lam Sakdir: Pembantu Anusapati, pengawal

Selasa, 5 Maret 2013
Pertemuan pertama dengan para pemeran "Tulah Cinta Kuasa" dan tim produksinya. Pukul 19.00 WIB kami sudah siap di TBY. Para pemain mulai berkenalan dan mengolah tubuh. Hari pertama ini diawali dengan berbagi cerita dan pendapat tentang karakter yang akan diperankan. Mencoba peran satu persatu, dan menentukan jadwal latihan. Diputuskan latihan rutin: Selasa, Rabu, Jumat pukul 19.00 dan Minggu pukul 15.00.

Setelah hari ini, latihan rutin terlaksana dengan baik. Para pemeran pun rutin melakukan latihan sendiri di luar jadwal yang ditentukan.

Kami memang "pemula", tapi kami tidak segan menerima dan berbagi pendapat. Saling memperkaya. Saling belajar. Saling menguatkan.

Hal ajaib pertama (yang memang diharapkan) adalah pada latihan pertama sampai keempat, ketika pemeran datang atau pun pulang, mereka saling berjabat tangan (tanda menyapa atau berpamitan). Setelah latihan kelima, "kesopanan" itu hilang digantikan teriakan "aku dhisikan yo!" dan yang lain menjawab "ati-ati!" atau "madhang sek wae". Kekakuan digantikan oleh keakraban. Lebih cepat dari dugaan.
Mengeksplor salah satu adegan: Pembunuhan Tunggul Ametung
courtesy of @kulopungky
Dalam berproses, pasti ada jatuh bangun, permasalahan, selisih pendapat.
Tantangan pertama adalah ketika Sutradara dan Asisten Sutradara sepakat menukar pemeran. Keraguan muncul, takut kalau ada yang tersinggung. Ternyata ketakutan itu tidak terbukti. Semua baik-baik saja.
Tantangan kedua, ketika seorang pemeran diberi jam malam oleh keluarganya. Kami maklum karena dia seorang anak gadis. Orang tua mana yang tidak khawatir jika anak gadisnya pulang larut hampir setiap hari. Setelah dibicarakan dengan tim, akhirnya diputuskan kalau latihan tidak akan melebihhi jam 10 malam.

Jumat, 22 Maret 2013
Seusai latihan rutin, sambil beristirahat menikmati minuman dan makanan kecil, kami berdiskusi dan mengambil suara. Ada dua hal yang dibicarakan.

Pertama, mengenai "warna" pertunjukkan Tulah Cinta Kuasa. Dari awal sutradara menghendaki pementasan ini dibakut dengan suasana komedi, namun juga menampilkan aksi. Tapi seiring berjalannya waktu, komedi aksi ini tidak terlalu terlihat. Menurut Pimpinan Produksi, "warna" yang diberikan malah menjadi beban untuk para pemeran. Setelah dilakukan pemungutan suara, para pemeran setuju untuk tetap pada "warna" tersebut dan menjadikan hal itu sebagai tantangan.

Kedua, mengenai nama. Ya, kami belum memiliki nama keluarga. Dengan voting akhirnya diputuskan nama keluarga kami adalah Teater Maraton. Untuk lari maraton, kita perlu energi yang cukup dan kemampuan mengelola tenaga dan waktu. Kita tidak boleh berlari terlalu cepat di awal, kemudian kelelahan di tengah. Yang diperlukan adalah kontinuitas. Demikian juga hendaknya Teater Maraton, diharapkan karya-karya yang dihasilkan bisa berkelanjutan.

Suasana evaluasi setelah latihan
courtesy of @kulopungky

Selagi para pemeran bereksplorasi dengan karakter masing-masing, tim produksi menggalang dana di Pasar Senthir. Mereka berjualan pakaian bekas layak pakai. Memang, kami ini teater independen, sehingga belum memiliki penyandang dana. Kami mencari sendiri. Tim yang selalu setia berjualan: Ani Hanifah, Jeni Dwi Astuti, Pungky Andriyani dan beberapa orang yang kadang membantu.

Suasana penggalangan dana di Pasar Senthir
courtesy of @kulopungky
Sabtu, 31 Maret 2013
Untuk pertama kalinya, Teater Maraton tampil di depan umum. Kami ingin "mencobai" mental kami.
Pukul 19.30 WIB kami sudah siap melakukan aksi kami di titik nol kilometer Yogyakarta. Apakah kami cukup mampu mengendalikan diri ketika disaksikan orang banyak? Terbukti, kami sukses (walaupun masih ada yang grogi). Saya cukup senang mengetahui anggota keluarga Teater Maraton grogi, karena itu berarti mereka ingin memberikan yang terbaik.
Para pemeran "mencobai" mental mereka dengan beracting. Sedangkan tim produksi berkeliling menyebarkan selebaran dan menggalang dana.
Setelah selesai, kami mengadakan evaluasi sekaligus merayakan ulang tahun salah satu anggota keluarga: Ken Dedes (a.k.a Rizki Fitria).

PimPro dan SM
courtesy of @kulopungky

Salah satu babak Tulah Cinta Kuasa
courtesy of @aamalina_
Inilah setengah proses keluarga ajaib yang menamai diri Teater Maraton. Proses masih akan berlangsung seumur hidup. Proses persiapan Tulah Cinta Kuasa tersisa 19 hari lagi. Kami sudah melakukan count down menanti saat pementasan kami.

20 April 2013, 19.30 WIB akan menjadi hari yang besar untuk keluarga ajaib ini.
Beringin Soekarno, Realino, Universitas Sanata Dharma (kampus Mrican) akan menjadi saksi bisu langkah pertama bayi keluarga ajaib ini.
Silakan datang dan menjadi saksi (yang hidup) langkah pertama bayi kami yang diberi nama Tulah Cinta Kuasa. -JP-

Ken Arok dan Ken Dedes
courtesy of @aamalina_

Here we are! Teater Maraton
courtesy of @aamalina_

Di balik layar Tulah Cinta Kuasa:
Penulis Naskah dan Sutradara: Jessica Permatasari
Asisten Sutradara: Wicaksono Bagus Pamungkas
Stage Manager: Jeni Dwi Astuti
Pemimpin Produksi: Ani Hanifah
Artistik: Ichwan Fachrudin
Kostum dan tata rias: Yovita (dan tim), Nur, Reya
Musik: Rahmanu, Ariyo Prio (dan tim)
Tata lampu: Jati Pradipto (dan Tim TSD), Galih
Publikasi dan dokumentasi: Pungky, Sepvia

Didukung oleh:
Teater Seriboe Djendela
Stupa Community
Sanggar Seni R 'n B
Urkes Dangdut Soeryati
LEM Fakultas Ilmu Budaya - UGM

Media Partner:

2 comments:

  1. Kapan aku bisa menjadi bagian Teater Maraton? Seru kayaknya. Lanjutkan, kawan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sinilah ke Jogja lagi, langsung diterima jadi bagian keluarga :)
      Terima kasih dukungannya, say.. xoxoxo..

      Delete

There was an error in this gadget