Friday, July 19, 2013

Never Stop Learning: from Kuwalik

Dua minggu setelah pementasan Kuwalik berlalu, tapi pelajaran-pelajaran yang diberikan tetap kupegang. Bukan sekedar belajar bagaimana mengatur perlengkapan di panggung, berakting, bersuara lantang, mengoperasikan pencahayaan ataupun hal-hal teknis lainnya. Pelajaran hidup yang lebih utama. Aku semakin yakin bahwa teater sangat mempengaruhi kecerdasan emosional (EQ) kita.

Dikutip dari wikipedia, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Menurut Goleman (1999) kecerdasan emosional merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

Dalam proses kuwalik ini, aku belajar bagaimana mengolah emosiku sendiri. Sebagai contoh, sebuah peristiwa yang tidak aku inginkan, ketika ayahku sakit dan perlu operasi di Semarang. Dengan terpaksa aku meninggalkan proses Kuwalik selama 5 hari dan kembali ke Semarang. Di situ banyak "pembicaraan" tentangku. Memang aku tidak pergi begitu saja, aku sempat berpamitan. Tapi ternyata tidak semua orang memperhatikan. Sempat aku terpancing emosi dan beradu argumen dengan Sutradara pementasan (karena dirasa aku sebagai Pimpinan Produksi tidak bertanggung jawab). Yang aku catat:

  1. Mengolah emosi sendiri dengan tidak terpancing ketika hal-hal tidak berjalan sesuai keinginan kita
  2. Mencoba memahami orang lain dengan "mencoba berdiri di sepatunya"
  3. Memberi pengertian kepada orang lain tentang keadaan kita sehingga mereka pun bisa "mencoba berdiri di sepatu kita" (secara baik-baik tentunya)
  4. Mengalah ketika pihak lain tetap keras kepala atau keras hati
Kondisiku saat itu bisa dibilang sedang tertekan (ayah sakit, keberangkatan ke Nabire dibatalkan, perlu biaya pengobatan), tapi itu bukan menjadi alasan untuk kemudian marah-marah atau pun berdebat kusir.

Selain itu aku pun menghadapi banyak orang dengan berbagai latar belakang (baik keluarga maupun pendidikan) dan kepribadian. Ada yang cuek bebek, ada pula yang sangat sensitif. Ada yang menegur dengan cara keras, bahkan mengancam, ada pula yang menyindir, atau ada yang dengan memberikan motivasi. Cara menghadapinya pun berbeda.
Kepada yang cuek bebek, aku coba untuk memberi teguran keras. Kepada yang sensitif, harus lebih lembut dan dengan sedikit pujian (yang jujur) agar termotivasi. Sesekali aku pun ditegur oleh teman-teman seproses untuk lebih perhatian pada hal-hal detail. Di sini yang aku catat:
  1. Memperhatikan kebiasaan orang lain yang seproses dengan kita
  2. Sebisa mungkin menyesuaikan diri dengan cara mereka, kalau tidak memungkinkan, mencoba mengingatkan mereka untuk lebih menyesuaikan dengan tim
  3. Menekan ego kita, sehingga tidak semena-mena menerapkan prinsip kita
Dalam mengelola tim, aku pun mencatat:
  1. Memberikan target-target dan deadline untuk diri sendiri dan masing-masing tim
  2. Memacu tim untuk memberikan target pada diri mereka sendiri
  3. Lebih berpikir jangka panjang (tentang sebab akibat)
Mungkin ada banyak hal yang kupelajari secara tidak sadar dan tidak tertulis di sini. Intinya aku belajar banyak dari proses ini, dan berharap akan tetap terus belajar di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun, terutama keluarga Teater Maraton ini.

Life is the greatest teacher. We stop learning when we stop breathing.
-JP-


No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget