Friday, February 21, 2014

Oleh-Oleh dari Negeri Singa dan Negeri Jiran


Bagi teman-teman yang sudah menagih oleh-oleh, silakan nikmati oleh-oleh dari kami:


Selasa, 11 Februari 2014, pukul 5 sore, akhir dari jam kantor. Yeay! It means saatnya pulang ke kos, cek barang-barang yang sudah di packing semalam, dan cuuuss ke stasiun. Yep, saatnya jalan-jalan men!

Kali ini aku nekat ambil cuti 4 hari kerja untuk benar-benar jalan-jalan (maklum, selama ini jalan-jalannya sekalian tugas kantor). Aku dan seorang teman  memutuskan ke Singapura dan Malaysia di awal 2014 ini. Air ticket sudah dibeli sejak tahun 2013 lalu; sebagai jaminan aja sih biar beneran terlaksana dan nggak cuma rencana. J

Penerbangan kami dari Bandung; jadi dari Yogyakarta kami memutuskan naik kereta api. Ada beberapa pilihan, tapi waktu yang paling cocok adalah kereta api Kahuripan, economy class (IDR 85.000/orang) berangkat pukul 19.10 WIB dari Stasiun Lempuyangan, sampai di Bandung (Stasiun Kiaracondong) sekitar pukul 5 pagi. Dari stasiun Kiaracondong, kami naik kereta lokal seharga IDR 3.000 untuk sampai di Stasiun Bandung.

Tiket Kereta Api Jogja - Bandung - Jogja


12 Februari 2014,

Sebenarnya stasiun Bandung ke bandar udara cukup dekat dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi karena masih terlalu awal, kami memutuskan untuk berjalan-jalan dulu. Di Bandung kami sempat mengunjungi Gedung Merdeka (Museum Konferensi Asia Afrika). Buka hari Selasa-Minggu pukul 08.00 – 17.00, tanpa bayar tiket masuk alias gratis. Mengingat pelajaran sejarah lebih asik kalau sambil lihat dokumentasinya. J
Museum Konferensi Asia Afrika
Penerbangan kami ke Singapura pukul 14.00, jadi pukul 12.00 WIB kami harus sudah ke bandar udara. Karena kami sudah melakukan web check-in sebelumnya, kami agak bisa bersantai, tidak terburu-buru. Ini salah satu tips untuk tidak perlu antri di airport untuk check-in. Sebagian besar maskapai di Indonesia sudah ada fasilitas tersebut, kok.

Sampai di Changi Airport sekitar pukul 5 sore waktu Singapura, naik MRT menuju Bugis karena kami menginap di daerah sana (sudah online booking sebelumnya). Sekali jalan MRT Airport-Bugis SGD 1,2 per orang. Dari MRT station kami menyusuri North Bridge Road untuk menemukan Cozy Corner guesthouse.

Ada beberapa model kamar: dorm untuk empat orang, dorm untuk enam orang, private room untuk dua orang. Jika tidak nyaman untuk berbagi kamar dengan orang asing, lebih baik ambil private room (dorm di sini konsepnya mix, laki-laki dan perempuan jadi satu). Harga dorm untuk 4 orang adalah SGD 20 per orang, dorm 6 orang SGD 18 per orang, untuk kamar twin SGD 50 (bunk bed) dan SGD 55 sudah untuk dua orang. Semua kamar dengan fasilitas AC, dan dapat breakfast (bread and coffee or tea).

Saat-saat pertama di Singapura harus mengunjungi the icon: patung Merlion. Setelah makan malam di dekat penginapan dengan menu Mee Pok dan Mee Sua seharga masing-masing SGD 3, akhirnya kami berjalan kaki ke Merlion Park. Traffic yang tidak terlalu padat dan adanya signs yang jelas untuk pejalan kaki membuat berjalan kaki di Singapura terasa aman dan nyaman. Kami sempat mampir ke War Memorial Park, Tan Kim Seng fountain, dan St. Andrew’s Cathedral sebelum sampai ke tempat tujuan. Setelah puas mengambil gambar, sekitar pukul 11 malam kami kembali ke penginapan.


St. Andrew's Cathedral

Patung Merlion

Pemandangan malam di sekitar Merlion Park



13 Februari 2014,

Sesuai yang direncanakan, pagi ini kami akan mulai melompat dari satu museum ke museum lain. Museum pertama: Singapore Art Museum (SAM). Saat kami di sana, memang sedang berlangsung Singapore Biennale 2013. Tiket Biennale dijual seharga SGD 10, sudah termasuk empat museum: SAM, 8Q at SAM, National Museum of Singapore, dan Peranakan Museum.

Seperti biasa, aku kagum dengan cara berpikir seniman dalam mengkritisi keadaan dan menjadikannya sebuah karya seni. Salah satu hasil karya favoritku adalah karya Tran Tuan dari Vietnam berjudul Forefingers yang dipamerkan di SAM. Tran Tuan menceritakan tentang kehidupan keluarganya yang tinggal di daerah perbatasan saat ada konflik di Vietnam. Ayahnya dan saudara laki-lakinya rela memotong jari telunjuk mereka agar tidak diwajibkan masuk militer.

SAM dan National Museum of Singapore menyediakan museum guide secara cuma-cuma. Jadi bagi yang tidak terlalu mengerti seni tapi tertarik, masih bisa memahami karya yang ditampilkan.

Siang hari kami memutuskan makan siang di daerah Singapore Management University dengan asumsi makanan di sana dijual dengan ‘harga mahasiswa’. Dan benar, harga chicken rice with mushroom dan chiken rice with sausage totalnya SGD 6,5. Untuk ukuran perutku sih sudah cukup, tapi untuk ukuran perut temanku sepertinya kurang (ups!).

Berhubung sudah terlalu sore, kami tidak melanjutkan ke Peranakan Museum (sudah tutup L ) dan memutuskan berjalan ke Singapore Flyer, bianglala raksasa untuk melihat Singapura dari atas. Harga tiket Singapore Flyer SGD 33 per orang. Jam operasinya jam 8.30 pagi sampai 10.30 malam. Saranku, kalau mau menikmati Singapura dari atas, tunggulah matahari terbenam (sekitar pukul 7.30 malam). Singapura cantik kalau berlampu.


Singapura dari atas (difoto dari dalam Singapore Flyer)


Makan malam tanggal 13 kami ditraktir teman yang kerja di Singapura. Semacam chicken curry (if I’m not mistaken), entah harganya berapa (maklum aku nggak ikutan makan, kenyang naik bianglala :p ).


14 Februari 2014,

Hari kasih sayang di Singapura! Adakah yang spesial? I can say so. Banyak mahasiswa mahasiswi jualan bunga mawar dan boneka, banyak juga pasangan yang lalu lalang sambil si cewek bawa sebuket bunga. Aku? Ah, bunga mah udah biasa, nggak perlu dikasih pas hari kasih sayang (sambil lempar poni).

Kembali ke cerita, kami menuju Asian Civilisation Museum (kenapa nggak ke Peranakan Museum padahal sudah ada tiket di tangan? Karena kata locals ACM lebih keren dan asik). Aku kira di ACM bisa dua atau tiga jam saja, ternyata hampir seharian kami di sana. Bener keren! Apalagi ada exhibition khusus saat kami ke ACM: The Secret of Fallen Pagoda dan The Beginning of The Becoming. Untuk menikmati seluruh exhibition kami perlu membeli tiket SGD 12 per orang.

berpose sejenak di depan ACM

Alhasil kami seharian di ACM. Untungnya kami sudah beli makan di perjalanan menuju ACM: ayam penyet khas Indonesia seharga SGD 5 per porsi. Kami sempatkan keluar museum dan makan siang di taman dekat museum, setelah itu kembali mengasah otak dengan barang-barang dan cerita luar biasa dari masa lalu.

Keluar museum sekitar pukul 7 malam (dan langit masih cerah saja), lalu kami memutuskan untuk ke icon lain Singapura: Gardens by the Bay.  I had no idea what place that is. Tapi akhirnya mau aja diculik ke sana. Tempatnya asik sih, romantis gitu. Banyak anak muda yang nongkrong di situ (bukan hanya pacaran lho!), ada juga keluarga yang memang sengaja gathering di situ. Mulai dari yang berduit (yang bisa makan di resto mahal) sampai yang kantongnya cekak (cuma bisa nongkrong di tamannya saja sambil genjreng-genjreng gitar), dari anak yang masih ingusan sampai kakek nenek kumpul jadi satu di situ.


Gardens by the Bay
*tidak banyak ambil foto karena baterai kamera menipis :(


15 Februari 2014,

Pukul 5 pagi kami sudah bersiap-siap menuju Changi Airport untuk terbang ke Kuala Lumpur. Penerbangan kami memang pukul 8, tapi kami tidak ingin terlalu terburu-buru. Pukul 6.30 kami berjalan menuju MRT station terdekat untuk kemudian dibawa ke airport dengan kecepatan tinggi (lebay dikit sih, di Indonesia belum ada soalnya) - MRT Bugis-Airport SGD 1,2. Sampai di Changi, urus ini itu, menuju waiting room, bla bla bla, boarding, take off, bla bla bla… Intinya pukul 10 kami sampai di Kuala Lumpur, disambut dengan panas yang menyengat L.

Tujuan utama kami ke Batu Caves yang ternyata cukup jauh. Dari LCCT (Low Cost Carrier Terminal -terminal khusus penerbangan Air Asia dan Tiger Ways), kami naik bus menuju KL Sentral seharga MYR 8 per orang. Setelah perjalanan sekitar 1,5 jam, kami sampai di KL Sentral. Kami memutuskan untuk pilih makanan yang ‘aman’. Jadilah kami makan di restoran cepat saji dengan logo huruf M dengan harga standar mereka.

Dari KL Sentral kami naik KTM Komuter seharga MYR 2 per orang sampai Batu Caves. Panas tidak menghalangi kami untuk narsis. Ratusan anak tangga pun kami lewati. Silakan melihat foto-foto dan menyimpulkan sendiri.


Salah satu 'penghuni' kompleks Batu Caves

Patung Murugan tertinggi di dunia
*Murugan: dewa perang, anak Shiva

Tangga yang harus dilalui sebelum sampai pusat ibadah

Dari Batu Caves, kami menuju KL Sentral lagi untuk kemudian mencari penginapan di daerah sana. Banyak penginapan, tapi yang bersih dengan harga terjangkau agak susah ditemukan (karena sudah penuh). Kami memutuskan tinggal di Joy Inn dengan harga MYR 80 untuk dua orang semalam. Malam harinya kami jalan ke Petaling Street, the chinatown of Malaysia menggunakan monorail train, turun di stasiun Maharajalela seharga MYR 1,2. Kami memutuskan untuk tidak makan malam di Petaling Street mengingat budget yang terbatas. Kami makan malam di dekat penginapan: Nasi goreng dan Mee goreng seharga @ MYR 3.


16 Februari 2014,

Kami tidak terlalu buru-buru hari ini karena penerbangan kami ditunda dua jam akibat letusan Kelud. Pukul 11 siang kami keluar penginapan dan langsung menuju icon Malaysia: Menara Kembar aka Twin Tower. KL Sentral menuju KLCC (Kuala Lumpur City Center) menggunakan LRT seharga MYR 1,6 per orang. Setelah itu kami ke Masjid Jamek menggunakan LRT lagi dengan harga tiket yang sama. Kemudian berjalan kaki menuju Pasar Seni untuk sekedar membeli buah tangan untuk beberapa kerabat. Catatan saja, berjalan kaki di Kuala Lumpur hampir serupa dengan di Indonesia (if you know what I mean, Indonesians).


Masjid Jamek

Twin Tower

Pukul 5 sore, dengan MYR 1, kami sudah meluncur lagi ke KL Sentral untuk mengejar bus menuju LCCT. Bus dari KL Sentral ke LCCT seharga MYR 10 per orang. Di bandar udara kami mengurus ini itu, bla bla bla, menunggu sampai hampir tiga jam sambil terkantuk kantuk. Akhirnya boarding pukul 22.00 dan sampai di Bandung pukul 24.00 WIB.


17 Februari 2014,

Kami bermalam di Stasiun Bandung dan menuju stasiun Kiaracondong menggunakan kereta lokal (IDR 7.000 per orang) pukul 04.20. Kereta Api Pasundan Kiaracondong – Lempuyangan (economy class - IDR 90.000) berangkat pukul setengah enam pagi. Sampai di Yogyakarta pukul 13.30 dan disambut dengan abu yang masih bertebaran.


18 Februari 2014,

Saatnya kembali menghadapi kehidupan nyata. Yuk kerja, ngumpulin duit buat jalan-jalan lagi. ^_^


Tautan penting:

  1. jadwal kereta api Indonesia
  2. peta MRT di Singapura
  3. rute dan jadwal transportasi umum di Malaysia

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget