Saturday, April 9, 2016

Buat Adik-Adik Penerus Bangsa

Buat adik-adik SMA, SMK, dan sederajat yang sudah selesai melaksanakan ujian nasional,

Saya ingin mengucapkan selamat. Hasil belajar kalian selama tiga tahun sudah sangat berguna untuk menjawab soal-soal ujian nasional.

Dulu, zaman saya sekolah, sebelum ujian nasional, pasti banyak sekolah yang mengadakan doa bersama. Termasuk sekolah saya. Sepertinya sekarang masih banyak yang melakukan kebiasaan baik itu.
Bagaimana di sekolah adik-adik? Ada doa bersama juga? Apa yang didoakan? Semoga bukan seperti di beberapa sekolah yang memohon supaya murid-murid bisa lulus 100% apa pun caranya. Apalagi doa mohon pengawas ujiannya yang suka tidur di ruang ujian supaya bisa nyontek ya, dik. Idealnya yang didoakan adalah mohon bimbingan Tuhan dalam mempersiapkan (belajar) dan mengerjakan ujian nasional. Kalau dulu di sekolah saya, ada juga pokok doa supaya murid-murid bisa mengerjakan ujian nasional secara jujur. Sekali lagi, itu idealnya.

Bicara tentang nyontek, kemarin waktu mengerjakan ujian nasional kalian nyontek ga? Ada lho, sekolah -yang mengaku menekankan pendidikan karakter- mengajak muridnya nyontek berjamaah. Bukan hanya nyontek ke teman, tapi 'nyontek' ke gurunya. Saya sebagai pendidik, terus terang saja, merasa dilecehkan. Saya sakit hati karena sosok guru (bukan pendidik) malah mengajak muridnya berbuat dosa ramai-ramai. Saya tidak mau menyebut mereka pendidik. Idealnya, seorang pendidik bertanggung jawab mendidik, terutama akhlak, bukan malah merusak. Itu idealnya.

Oya, setelah ujian nasional, adik-adik ngapain kemarin? Ikut coret-coret seragam? Ikut konvoi di jalan? Ikut merokok di kelas sambil direkam dan diunggah ke Youtube? Atau ikut memalak truk pakai senjata tajam?
Saya harap kalian bukan adik-adik yang tidak bertanggung jawab seperti itu.

Coba dipikir, itu baru hari terakhir ujian nasional. Kalian belum tahu hasilnya, entah lulus atau harus mengulang ujian tahun depan. Kok sudah pede merayakan, apalagi secara urakan? Kalian bisa jawab, "pasti luluslah, aku kan cerdas!" Oke, seandainya kalian lulus, apa kalian sudah tahu mau kuliah di mana, jurusan apa? Sudah diterima di universitas pilihan kalian? Kalau mau langsung kerja, sudah tahu mau kerja apa? Kalau belum, ngapain kalian belagu merayakan selesainya ujian nasional? Masih banyak ujian selanjutnya yang menanti, dik. Kalau sudah, Puji Tuhan! Tapi apa kalian yakin setelah itu semua akan mulus? Duh, jangan kepedean lho dik, nanti kecewa.

Idealnya, setelah selesai ujian nasional, adakanlah doa bersama lagi. Mengucap syukur karena segala proses ujian nasional sudah selesai. Berdoa dan mengucap syukur karena bimbingan Tuhan selama mengerjakan soal-soal ujian nasional dan boleh berusaha yang terbaik dengan penuh kejujuran (untuk yang jujur) atau mohon ampun beribu ampun kepada Tuhan Maha Pengampun jika sudah berbuat kecurangan.

Idealnya, baju seragam yang tidak akan dipakai lagi itu bukan dicoret-coret, tetapi dikumpulkan, disumbangkan kepada adik-adik yang lain yang tidak punya seragam. Kalian tengoklah desa-desa di pojok kota kalian, banyak yang tidak punya seragam. Kalian adik-adik terdidik yang seharusnya punya empati dan simpati.

Idealnya, kalian mengucap terima kasih pula pada pendidik-pendidik kalian yang membimbing selama kurang lebih tiga tahun, yang mengajarkan kalian akhlak mulia.

Saya hanya bisa berdoa (dan berusaha di sekolah tempat saya mendidik saat ini), semoga semua 'idealnya' di sini bisa terwujud.

Dan saya juga hanya bisa berdoa, adik-adik sekalian, terlepas dari apa yang sudah kalian lakukan menjelang, saat, dan setelah ujian nasional -ideal atau tidak- kalian akan sukses melewati ujian-ujian yang lain, sampai kita semua lulus dengan nilai yang memuaskan dan masuk surga yang kekal. Amin.

Salam,
Saya yang pernah merasakan euphoria ujian nasional

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget