Sunday, August 12, 2012

Ibu


Oleh: Jessica Permatasari, Sovy Abidah, Warih Subekti, dan Puteri Salju Rahysta

Seorang Ibu yang bertarung melawan panas
demi mencari rezeki
di depan Kraton Jogjakarta
Di bawah semangat sinar mentari
Berlindung di bawah bayang payung
Tubuh mungil renta dengan
wajah keriput berhias peluh
Tak padamkan sapa dan senyummu
Demi secuil nasi untuk anak cucu
Betapa mulianya engkau, Ibu
Betapa tulusnya engkau, Eyang
Ibu,
Jangankan terik mentari
api pun rela kau genggam
duri pun rela kau injak..
Jangankan bermandi keringat,
bermandi darahpun kau sanggup
Karna cinta menguatkanmu
tersenyum diatas bibir permata hati yang kelaparan
yang menangis karna perih menari diperutnya.
Eyang,
Api dan duri tak kan mampu matikanmu
Darahmu, darah cinta yang mengalir pun di nadiku
Kulitmu boleh berkeriput
ragamu semakin rapuh
namun kau masih simpan
hati bagai sutera cina yang lembut di dalamnya
yang pancarkan indahnya kasih tanpa henti
Ibu,
Kau selaksa bumi
Meski kami injaki
kau tetap menumbuhkan
tanaman yang indah
Ibu,
Kau laksana mata air
yang tak kan kering di kemarau panjang
akan selalu menyejukan
memberi nafas kehidupan
penghapus dahaga
dari kegersangan jiwa
Ibu,
Hatimu adalah samudra kasih
yang menghapus dahaga jiwa
yang menghangatkan sanubari sepi
yang menerangi jalan gelap
Ibu,
wajahmu rembulan saat purnama
dalam rengkuhmu akan
rasakan teduh bening air telaga
kata-kata yang kau ucap
mengepak sayap asaku
menggapai cakrawala
dan seperti ombak samudra
kau ajari kami jalani hidup ini
Ibu,
Entah berapa sakit kau cumbui
berapa perih kau rengkuhi
berapa luka kau temani
Namun
tak ada keluh
tak ada pamrih
Hanya ada
senyuman dan cinta
Ya,
Cintamu sumber mata air abadi
Senyummu mentari yang setia
jagai tiap langkah
Kau sinar yang tak padam oleh usia
Beribu syukur tak mampu bayarkan
pelajaran hidup yang kau beri
berjuta kata tak sanggup katakan
tentang cintamu
berpuluh juta puisi tak seindah
hangat pelukmu dan lembut kecupmu
Ibu, Ibu, Ibu,
Dalam tarikan nafasku
cintamu untukku utuh
mengkristal dalam sanubari
-Jogjakarta-Cirebon-Jakarta-Hong Kong-
12 Agustus 2012
==========================================
PARA PENYAIR YANG TERLIBAT: (sesuai urutan abjad)
*) JESSICA PERMATASARI Lahir di Semarang, 7 Januari, Gemar menulis cerpen dan puisi sejak SMP, namun tidak pernah mempublikasikan karyanya. Bergabung di Kumandang Sastra (KuSas) di tahun 2003-an, di bawah asuhan Victor Roesdiyanto (kak roes) sbg pembina KuSas. Sebelum di KuSas, sempat bergabung di TerKa (Teater Katholik) asuhan Kak Roes juga.
*) PUTERI AYU RAHYSTA Pemilik nama asli Arin Wahyuni ini lahir di Blitar, Jawa Timur, 4 April. Gemar makan bakso dan bebek goreng dan merah warna kesukaannya. Sifatnya keras kepala,tapi manja dan suka cengeng. Apa yang diinginkannya harus tercapai. Hobinya merajut aksesoris berbahan manik-manik dan menulis. Motto hidupnya : Jadilah diri sendiri dan hadapi segala persoalan dengan ikhlas serta tabah,serta jadikanlah pengalaman guru terbaik dalam hidup.
*) SOVY ABIDAH Terlahir di Majalengka, 30 April, namun tinggal di Cirebon. Pengalaman menulis puisi di koran, di buletin, dan mading kampus. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa semester akhir di jurusan keguruan di STAIMA (Sekolah Tinggi Agama Ma'had Ali).
*) WARIH SUBEKTI Pengamat sastra dan budaya asal Gombong-Purworejo ini juga aktif di media online. Identitas lengkapnya tidak boleh semua orang tahu, lahir di Bagelen Purworejo 45 tahun lalu, hitung sendiri tahun berapa.
TENTANG PENYUNTING DAN KUMANDANG SASTRA:
*) Puisi-puisi ini dipilih dan disunting seperlunya oleh NENY ISHARYANTI, salah satu administrator di grup penyair Kumandang Sastra di Facebook. Selain sebagai editor, peran lain yang dilakoninya adalah sebagai penulis puisi dengan sebuah buku antologi puisi "Sajak Rindu di Negeri Itu" (2012) dan blog kumpulan puisihttp://nenyizm.wordpress.com. Sedang di dunia nyata, masih tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana di University of Melbourne, Australia; dosen di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga; serta sesekali menjadi penyanyi dan penggerak diskusi di beberapa forum.
*) Kumandang Sastra (atau disingkat KuSas) didirikan di RRI Semarang oleh Victor Roesdianto atau Kak Roes, panggilan akrabnya, dan melakukan siaran perdana pada tanggal 29 Maret 1967. Sejak tahun 2005, KuSas dikemas dengan format yang berbeda yaitu lebih menekankan menjaring para penulis pemula dengan tujuan agar mereka berani menulis apapun yang mereka ingin tulis (khususnya puisi) tanpa ada rasa ketakutan untuk salah. Sejak munculnya Facebook, anggota KuSas semakin bertambah dan meluas dengan dibentuknya grup yang memungkinkan anggota grup untuk mempublikasikan puisinya tidak hanya melalui ajang pembacaan puisi di radio tetapi juga melalui dinding grup di Facebook.(Wrh/RIMA)

Dimuat dalam Rimanews

No comments:

Post a Comment