Monday, August 13, 2012

Mi Ayam Misterius


Oleh: Neny Isharyanti, Puteri Salju Rahysta, Jessica Permatasari, Chuppy Alfiani, Warih Subekti, Fevi Machuriyati, dan Sovy Abidah


Tampaknya lewat tengah malam ini, perutku sedang berulah keparat, menuntut diisi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tanpa memberiku kesempatan untuk beralasan bahwa ini tengah malam, banyak warung sudah tutup, dan kantongku sedang mengalami kemarau panjang, dituntutnya aku untuk mengisinya.

Akhirnya, mau tak mau aku terpaksa mengeluarkan motor kesayangan dari garasi untuk mencari makanan yang sedikit berkualitas. Sepanjang jalan tadi tak ada makanan yang cukup berkualitas dan sesuai kantong untuk kusantap. Sampai di ujung jalan agak jauh dari kost, kutemukan warung mie ayam yang masih buka dan tampaknya menggoda. Itu sebabnya aku akhirnya terdampar di warung ini. Setelah memarkir motor kesayanaganku, segera ku teriakan pada pedagang mie yang kelihatan sudah kecapekan itu.

" Pak, mie ayam , gak pake lama." Kataku memesan sambil nyelonong duduk si sudut memperhatikan jalanan yang mulai sepi.

"Iya, Mbak." Sahutnya singkat, lalu langsung dengan terampil memasak mie pesananku.

Rasa tak sabar, cacing cacing diperutkupun mulai berontak.
Setelah pesanan super kilat terhidang di meja, dengan tenaga yang ada aku racik ramuan andalan: sambal, saos, kecap. Menambah semerbak aroma sedap menusuk hidung, menggeliatkan makhluk dalam perutku. Tak memakai babibu lagi, aku mengarahkan sumpit yang sudah siap dengan mie ke mulutku. Alamak, benar benar mak nyos, supermantab istilah pak Bondan si pakar kuliner. Ya seperti orang yang seminggu belum makan, begitu kulahap santapan nikmat didepanku. Segelas es jeruk makin menambah nikmat menu makan malam separuh dini hari ini. Setengah kepedasan karena sambal membuat keringat bercucuran. Adrenalinku terasa bergerak cepat oleh rasa pedas.

Tapi aku tak ingin menghabiskannya cepat-cepat. Walau makhluk di perutku semakin berteriak meminta suapan selanjutnya. Kuperlambat irama makanku. Makan itu harus dinikmati. Mengunyahnya harus penuh pemahaman. Satu kali mengunyah sama dengan satu kali tersenyum (yah, paling tidak itu untukku). Glek. Suapan pertama sudah berhasil melewati tenggorokan dan mulai diolah di dalam. Siap untuk suapan-suapan berikutnya. Lidahku merasakan kenikmatan saat memasukkan mie ayam kedalam mulutku,tapi ada yang menjerit di dalam kepalaku. Stop. Stop. Ingat timbangan di rumah akan cemberut.

"Ah, biarlah timbangan itu protes. Toh dia juga akan diam saja saat cemberut." Seolah makhluk di perutku berteriak membelaku yang sedang terbuai nikmat mie ayam.

Ya, toh timbangan itu tidak mungkin menilai penampilanku. Cemberut hanya karena akan merasa berat. Biarkan saja.
Kadang aku benci sebenci-bencinya pada timbangan. Maunya aku loakkan dan aku tukar abu gosok. Atau aku ganti angkanya sesuai bobot ideal yang disukai pacarku. Dan diam-diam aku bawa timbangan ke tukang kir timbangan supaya direkayasa dan angkanya akan selalu menunjuk pada angka yang aku inginkan.

"Mbak maunya jarum timbangan menunjuk ke angka berapa ?" kata si tukang kir ramah sambil mengotak- atik jarum timbangan.

"Aku mau angka ideal porsi tubuh Jennifer Lopez. " Kataku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Ini bukan sense of humor tapi satire untuk diriku sendiri, Pak Tukang Kir, bisikku dalam hati.

Tiba tiba makanku agak sedikit terganggu dengan kehadiran bocah kecil pengamen jalanan. Gila, ini sudah lewat tengah malam. Dari mana munculnya bocah ini?

“Sik asyik sik asyik dengan pacarku..“ Sebait lagu Ayu Tingting keluar dari bibir mungilnya. Aku menoleh memandang wajah polos dengan dua kucir begitu memelas. Seketika selera makanku menjadi hilang. Yah usia belia kurang lebih 5 tahun sudah berjuang mencari sesuap nasi di jalan. Duh gusti, ada yang menohokku.

Kupegang sebelah lengan gadis kecil itu. Dengan lembut kutarik agak mendekat kepadaku.
"'Siapa yang mengajarimu menyanyi lagu ini, Dik?" tanyaku sedikit berbisik padanya.
Dengan agak takut takut dan pandangan mata yang memelas ia menjawab, "Abang saya yang mengajari"
Duh, hatiku begitu nelangsa. Anak sekecil ini yang seharusnya menyanyikan lagu pelangi-pelangi dan sejenisnya sudah dipaksa berasik-asik dengan kerasnya hidup.

Setelah selesai menyantap mie ayam aku berjalan kearah dimana motorku kuparkir. Dalam hatiku bertanya-tanya kok tadi si bapak penjual mie tidak mau menerima uang dariku. "Ini untuk hadiah ulang tahun," katanya. Nah lho, darimana dia tahu kalau malam ini aku berulang tahun? Seribu tanya mengemuka dan sejuta misteri mendera.

Ketika aku mendatangi warung itu, aku masih melihat beberapa pasangan bercengkrama. Namun ketika aku tengok setelah makan dan mulai akan menyalakan mesin motor, para pasangan tadi sudah tak ada. Bahkan setelah kutengok ke belakang, ke arah warung tempat aku makan tadi, warung itu pun raib. Ha!

Seorang lelaki tua mendatangiku.
"Mbak, tengah malam begini kok ada disini?" sapanya lembut.
"Ha, habis makan mie mie, ayam, di di di wa wa warung rung itu." tergagap-gagap aku menjawab pertanyaan lelaki tua itu, dengan telunjuk menunjuk warung yang sudah raib. "Ma, maaf, Pak, tadi disini ada warung mie ayam dan saya makan disini."

"Oh jadi Mbak belum dengar ya? Dulu disini memang ada warung mie ayam yang terkenal dan laku keras , tapi gara-gara tabung gas 3,5 kilo yang dipakainya meledak dan membakar warung dan seisi rumah, dan juga suami-istri pemilik warung itu, maka satu dua kali ada orang yang mengalami hal-hal seperti yang Mbak alami." tutur lelaki tua itu.

Aku tak tahu harus berkata apa. Lalu mie ayam yang ku makan tadi dari siapa? Dan beberapa pembeli tadi itu siapa dan kemana? Belum selesai pertanyaan itu mendera dalam lubuk jiwaku, lelaki tua yang tadi menjelaskan hal-hal yang tadi kualami pun raib. Oh, siapa juga tadi lelaki tua itu?

Semenjak saat itu aku trauma makan mie ayam. Takut kejadian raibnya warung itu terulang lagi. Semoga tidak lagi-lagi!

Salatiga-Hong Kong-Jogjakarta-Bekasi-Jakarta-Sidoarjo-Cirebon
13 Agustus 2012


===========================================================
PARA PENULIS YANG TERLIBAT: (dalam urutan abjad)
*) CHUPPY AFIANI Bernama asli Peppy Afiani, lahir di Jakarta 27 Juni. Lulusan YAI jurusan Ekonomi Managemen dan menulis pusi sejak SMP lewat majalah dinding. Sehari-hari berprofesi sebagai ibu rumah tangga yang bermukim di Bekasi sambil menulis puisi.
*) FEVI MACHURIYATI Lahir di Sidoarjo, 9 Februari 1972 dan berkarya di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo. Pengalaman menulis di majalah instansi ” Medivo ” dan cybernet di Facebook.
*) JESSICA PERMATASARI Lahir di Semarang, 7 Januari 1988. Gemar menulis cerpen dan puisi sejak SMP, namun tidak pernah mempublikasikan karyanya. Bergabung di Kumandang Sastra (KuSas) di tahun 2003-an, di bawah asuhan Victor Roesdiyanto (kak roes) sbg pembina KuSas. Sebelum di KuSas, sempat bergabung di TerKa (Teater Katholik) asuhan Kak Roes juga.
*) NENY ISHARYANTI Penulis ini menilai dirinya sebagai perempuan dengan berbagai peran: ibu dua anak, pengajar di sebuah universitas, mahasiswa pasca sarjana, peneliti pembelajaran bahasa dengan menggunakan teknologi, penulis puisi dan blog, pembaca novel sejarah, penyanyi jazz, dan penikmat permainan komputer. Berasal dari Salatiga, Jawa Tengah. Antologi yang sudah diterbitkannya ialah : Sajak Rindu di Negeri Itu (2012) dan puisi-puisinya terangkum di blog pribadinya http://nenyizm.wordpress.com/
*) PUTERI AYU RAHYSTA Pemilik nama asli Arin Wahyuni ini lahir di Blitar, Jawa Timur, 4 April. Gemar makan bakso dan bebek goreng dan merah warna kesukaannya. Sifatnya keras kepala,tapi manja dan suka cengeng. Apa yang diinginkannya harus tercapai. Hobinya merajut aksesoris berbahan manik-manik dan menulis. Motto hidupnya : Jadilah diri sendiri dan hadapi segala persoalan dengan ikhlas serta tabah,serta jadikanlah pengalaman guru terbaik dalam hidup.
*) SOVY ABIDAH Terlahir di Majalengka, 30 April 1987, namun tinggal di Cirebon. Pengalaman menulis puisi di koran, di buletin, dan mading kampus. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa semester akhir di jurusan keguruan di STAIMA (Sekolah Tinggi Agama Ma'had Ali).
*) WARIH SUBEKTI Pengamat sastra dan budaya asal Gombong-Purworejo ini juga aktif di media online. Identitas lengkapnya tidak boleh semua orang tahu.
TENTANG KUMANDANG SASTRA:
*) Kumandang Sastra (atau disingkat KuSas) didirikan di RRI Semarang oleh Victor Roesdianto atau Kak Roes, panggilan akrabnya, dan melakukan siaran perdana pada tanggal 29 Maret 1967. Sejak tahun 2005, KuSas dikemas dengan format yang berbeda yaitu lebih menekankan menjaring para penulis pemula dengan tujuan agar mereka berani menulis apapun yang mereka ingin tulis (khususnya puisi) tanpa ada rasa ketakutan untuk salah. Sejak munculnya Facebook, anggota KuSas semakin bertambah dan meluas dengan dibentuknya grup yang memungkinkan anggota grup untuk mempublikasikan puisinya tidak hanya melalui ajang pembacaan puisi di radio tetapi juga melalui dinding grup di Facebook.(Wrh/RIMA)

Dimuat dalam Rimanews

No comments:

Post a Comment