Thursday, December 13, 2012

Pemberontakkan Tubuh

Sejak kemarin siang aku merasa suhu tubuhku ini meningkat. Bisa aku rasakan seluruh tubuhku dibalut kehangatan, tapi tidak dengan jari-jari tangan dan kakiku: terasa beku. Seandainya kehangatan tubuhku ini tidak menyakitkan...

Aku berusaha menyelesaikan pekerjaan (lebih tepatnya menghabiskan jam kerja hingga tuntas) walaupun dengan jari-jari yang semakin membeku. Jaket sudah menempel di tubuhku, tapi tetap saja kedinginan (sebenarnya tubuhku sudah hangat, tak perlu dihangatkan lagi, kan?). Pukul lima sore, aku masukkan barang-barangku ke dalam tas ransel berukuran lumayan besar. Setengah enam aku sudah ada di atas sepeda, mengayuh dengan sekuat tenaga (walaupun tak sekuat biasanya); kali ini tanpa mp3 player di kupingku. Ingin cepat-cepat merebahkan tubuh di atas kasur.

Sekitar lima belas menit aku kayuh sepedaku, biasanya hanya tujuh atau sepuluh menit saja. Menara Eiffel yang membungkus kasurku segera menyambut dengan girang. "Kemarilah, berbaringlah, supaya hilang rasa sakit di tubuhmu," katanya. Aku segera melepas tas ransel yang membebani punggungku dan merebahkan diri di atas Menara Eiffel; tanpa berganti pakaian. Benar, sedikit hilang rasa sakit di tubuhku, jari jariku tetap dingin. Makanan dan jahe hangat yang tadi dibeli terasa pahit di mulutku tapi tetap aku paksa kunyah dan telan.

Setelah makan, kuputuskan untuk berganti pakaian (tak usahlah mandi) dan menyalakan laptop yang sengaja aku bawa kali ini. Malam ini aku sudah berjanji untuk berkencan bersama Hamlet selama empat jam. Setengah tujuh aku sudah siap di depan laptop yang menyala dan siap menemui Hamlet. Cerita klasik yang memesona dengan rhyme yang indah. Oh, karya Shakespeare ini sungguh sempurna! Branagh pun menggodaku dengan gaya Hamletnya: melancholy, romantic, tricky, smart. I am in love with him! Ophelia yang innocent dibawakan dengan bagus oleh Kate Winslet. I do fall in love with her as well.

Dengan badan berbalur minyak kayu putih, kaki terbungkus kaos kaki, badan dililit selimut akhirnya empat jam bersama Hamlet berakhir. Pikiranku mulai melayang-layang membayangkan versi monolog yang akan aku buat; hanya membayangkan. Sampai tertidur.

Pukul dua dan empat aku terbangun, merasakan tulang-tulangku seolah-olah tertusuk dinginnya udara. Sakit. Seluruh tubuhku berkeringat. Berkeringat tapi kedinginan. Sepertinya tubuhku mulai berontak. Tubuhku marah. Tubuhku menuntut untuk diistirahatkan sejenak. Aku akan membalurkan minyak  kayu putih lagi ke tubuhku, tapi ingin muntah rasanya mencium aroma minyak kayu putih. Benar-benar keterlaluan tubuhku ini! Aroma minyak kayu putih adalah aroma favoritku selama ini.

"Baiklah, tubuh, kalau kau mau diistirahatkan, baik! Aku akan istirahat! Tapi bagaimana aku istirahat kalau kau menyakitiku? Diamlah kau tubuh! Biarkan aku istirahat!"

Sepertinya tubuhku mendengarku. "Terima kasih, aku istirahat sekarang."

Hampir pukul setengah delapan, suara anak-anak kos yang akan berangkat sekolah mulai berisik. (Selama ini aku berpikir kenapa sekolah masuk pukul setengah delapan?). Aku terbangun, benar-benar terbangun. Merasakan ngilu di ulu hati dan jantung. "Tidak! Jangan kau berontak sekarang, jantung." Aku coba rileks di atas kasur. terduduk. Ngilu di ulu hati dan jantung lama-lama menghilang. Syukurlah, aku bisa bekerja seperti biasa, pikirku.

No comments:

Post a Comment