Friday, March 8, 2013

Inspirasi Kisah Cinta di Teve

Seringkali kita menonton film pendek tentang cinta di teve. Sebenarnya itu cuplikan kisah kehidupan manusia. Ya memang tak jarang kisahnya dilebih-lebihkan supaya lebih menguras air mata penonton. Tapi paling tidak inspirasinya dari kisah nyata. Sesi curhat dengan Ryan barusan yang menyadarkanku. Lalu aku coba mengingat beberapa cerita teman-temanku.


Seorang temanku dekat dengan seorang gadis, tanpa ikatan resmi berjudul "pacaran". Tapi mereka berdua tahu kalau saling sayang. Keluarga temanku mengenal baik si gadis, begitu pula sebaliknya. Sangat ideal. Tapi mereka memutuskan untuk berkawan baik saja hingga sekarang. Entah apa nanti mereka akan bersama di akhir cerita atau menemukan kebahagiaan masing-masing.


Kisah menarik lain dari seorang teman di Denpasar sana. Dia jatuh cinta dengan seorang lelaki yang ternyata sudah menikah. Walaupun dia tahu tak seharusnya memupuk cinta itu, dia tak bisa menyangkal hatinya. Akhirnya dia harus mengalah dengan menjaga perasaannya tanpa merusak rumah tangga lelaki itu. "Cintaku kepentok akta nikah," katanya.


Seorang teman lain di Bali juga punya cerita. Dia dan kekasihnya sudah berpacaran selama lima tahun (mungkin lebih). Selama itu pula ayah kekasihnya tidak tahu. Ya, backstreet istilah kerennya. Dia menuntut kekasihnya untuk memberitahu ayahnya tahun 2012 lalu. Untuk lelaki seusia dia kepastian hubungan sangat penting. Tepat seperti dugaan, ayah kekasihnya tidak setuju karena umur mereka beda enam tahun. Menurut kepercayaan keturunan TiongHoa, selisih enam tahun itu tidak akan membawa bahagia. Sekarang mereka masih berjuang mempertahankan cinta mereka.


Teman yang lain di Yogyakarta memilih untuk tetap setia pada perasaannya. Sangat jarang kita menemukan seorang lelaki yang walaupun sudah ditinggalkan kekasihnya, tetap setia menjaga perasaannya. "Aku bukan ga bisa move on, aku cuma ga mau move on.". Pada awalnya aku sering mencibir karena yang dilakukannya nampak bodoh. Tapi kemudian aku mengerti, itu adalah sebuah keputusan yang telah dipikirkannya dengan baik. Sampai saat ini dia masih menjaga cintanya pada si gadis.


Seorang kawan baikku, yang ditinggal menikah oleh lelaki yang dicintainya. Si lelaki dijodohkan. Dia pernah terpuruk, tapi sekarang mulai bangkit. Hatinya mulai terbuka untuk yang lain.


Kakak sepupuku yang selama ini tidak pernah pacaran (setahuku), ternyata berpacaran dengan seorang temannya dari masa SD. Si lelaki sekarang bekerja di Bali, kakakku di Semarang. Entah bagaimana mereka bertemu lagi setelah terpisah lama. Rencananya tahun ini kakak sepupuku akan dilamar, dan mereka akan menikah.


Kisahku pun akan ku ceritakan. Aku pernah jatuh cinta pada kawanku sendiri, seorang lelaki yang telah mempunyai kekasih. Dan dia sedang memupuk kembali cintanya kepada kekasihnya yang mulai layu. Aku tahu itu tidak benar. Aku mengalah. Kubunuh perasaanku sendiri. Awalnya memang sulit, tapi aku mampu merelakannya.


Sekarang aku jatuh cinta pada seorang yang (hampir) sempurna. Hampir, ya hampir sempurna. Ada dua hal yang mengganjal. Pertama, apakah dia mencintaiku. Kedua, apakah aku (dan dia) bisa meleburkan perbedaan yang ada. Aku masih berharap dia tak menyadari perasaanku padanya, karena aku tidak mau merusak jalinan persahabatan yang ada. Aku biarkan sukmaku nikmati rasaku sendiri.


Belum ada ending dari cerita-cerita yang ada. Tuhan masih terus menggoreskan pena menulis naskah hidup masing-masing. Satu keyakinanku, semua cerita yang ditulis olehNya pasti diakhiri dengan "live happily ever after".

8 comments:

  1. Cinta, cinta, dan cinta. Jadi ingat kisahku sendiri hahahahahaa.

    Ada sepenggal kutipan menarik
    "Cinta tidak pernah meminta untuk menanti. Ia mempersilahkan atau mengambil kesempatan, yang pertama itu pengorbanan dan kedua keberanian."- Ali bin Abi Thalib
    Cinta yang memilih kita. Keputusan selanjutnya adalah apakah mengambil kesempatan atau melepasnya. Bagi yang mengambil kesempatan, mencintai dan dicintai adalah bahagia itu sendiri. Dari kisahmu, semoga terbuka menuju jalan cinta yang kalian harapkan *klo ingat si cowok kpngn ngakak :D

    Lalu, bagaimana jika satu-satunya pilihan adalah melepas?
    Saat harus melepas, ada seorang teman yang pernah bilang: "Forgive, Forget, and Move On". Kapan itu? Saat kita benar-benar rela, atas nama waktu, kenangan, dan masa depan.
    Jangan pernah menunggu dengan diam, menunggulah dengan terus berkarya dan mencintai orang lain. Mari kita move on :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu hasil perenunganmu selama bertahun-tahun ya Pungs? :)

      Cinta memang yang berhak memilih, tapi kita yang bertanggung jawab memutuskan. ^_^

      "Forgive, Forget, and Move On" memang sebuah mantra yang ajaib. Semua orang bisa melakukannya, tinggal apakah orang itu mau atau tidak. Seperti salah satu kisah yang aku tulis di sini, dia memilih untuk forgive, but not forget and move on.

      Delete
    2. Semua emang balik ke masing-masing. Ada sebuah alasan kenapa ia tak jua move on, mungkin hanya dia dan Tuhan yang tau. Dan, saat itu tiba mari kita menunggu dengan senyuman termanis untuk senja.

      Delete
  2. Sebenarnya kisahku lebih rumit dari sekedar "kepentok akta nikah". Jika dia tidak mencintaiku juga mungkin akan jauh lebih mudah bagiku untuk pergi. Kenyataannya, dia dan aku sama-sama saling menyayangi. Dia tidak bahagia dengan pasangan sahnya, aku tidak bahagia dengan pasanganku. Salahkah jika kami memperjuangkan kebahagiaan kami? Aku rasa, tidak. Tunggu, ini bukan keegoisan. Ini naluri primitif kami untuk membahagiakan diri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dua orang yang saling mencinta tapi dipisahkan paksa oleh sebuah keadaan. Bukankah pernikahan itu sebenarnya dibuat oleh dia?
      Hati memang kadang memakai naluru primitifnya untuk membahagiakan diri walapun kadang menyiksa otak.

      Delete
    2. Dua orang yang saling mencinta tapi dipisahkan paksa oleh sebuah keadaan. Bukankah pernikahan itu sebenarnya dibuat oleh dia?
      Hati memang kadang memakai naluru primitifnya untuk membahagiakan diri walapun kadang menyiksa otak.

      Delete
  3. Cinta memang unthinkable, unpredictable...
    Cinta mulai bikin kita senyum sendiri ketika mengingat masa-masa indah.
    Cinta juga bikin kita menangis waktu kita ingat bahwa semua tidak seperti apa yang kita harapkan.
    Tidak di terima, orang tua, agama, suku, umur, status, di tinggal married, suami atau istri orang...masalah berat!
    Cinta tidak buta! Kita yang buta! Kadang menjerumuskan diri dalam "cinta yang salah".
    Memang banyak yang berhasil mengatasi segala rintangan...
    Tapi, yang sy dapat bahwa kita di beri "paket lengkap"...itu yg bkn sy keluar dri "penjara diri" akibat menyukai s'org yg b'beda. Apa saya salah? Apa dia salah? Tidak! Kita perlu m'kaji lagi :)
    M'hormati orang tua di mulai sejak pacaran adalah baik. Banyak yg mulai "back street" dan..."Mencelakakan Diri Sendiri"
    Orang tua memberikan berkat utk pernikahan kita. Bagaimana bs menikah tnp restu? Orang tua yg jahat sklpun, memiliki otoritas Tuhan. Mereka itu wakil Tuhan di dunia. Tidak ada salahnya m'dengarkan mereka. Jika, dia benar2 utk kamu, percayalah... Tuhan pasti buka jalan.

    Aku sulit melupakan yg b'beda itu...singkat waktunya...but it is worth!
    Ya, "cepat utk mengenal sulit utk lupa", kata temanku...

    Tuhan pasti beri paket yang lengkap. Trust me!

    ReplyDelete