Sunday, March 3, 2013

Perdebatan Satu Manusia

Mari kita berbincang tentang cinta.

Cinta? Sesuatu yang membuat kita rela jatuh. Iya, jatuh cinta.

Jatuh cinta membutuhkan dua frekuensi
yang sepakat untuk saling bertemu.

Ya ya, mungkin begitu
dan frekuensiku tidak sepakat untuk menemukan frekuensinya.

Dua frekuensi itu butuh waktu untuk saling menemukan,
demikian pula jatuh cinta.

Waktu? Apa waktu?
Aku pernah jatuh cinta pada kamu tanpa waktu yang panjang kan?

Kamu jatuh cinta padaku pada pertemuan pertama kita?

Tidak,
memang bukan pada pertemuan pertama.

Mungkin saat itu frekuensi kita memang sedang kuat
jadi tidak sulit untuk saling menemukan.

Ah, entahlah
aku tak mengerti tentang frekuensi.
Yang aku tahu,
jatuh cinta itu ibarat belanja.
Kalau sudah jatuh hati pada satu barang,
barang lain terlihat jelek.

Itu karena kamu menutup mata untuk melihat barang yang lain
dan tak mau mencobanya

Aku tidak menutup mata,
aku melihat,
tapi benar tak ingin mencoba karena hatiku sudah jatuh pada satu.
Itu karena hati.

Bukan, bukan karena hati.
Itu karena otakmu yang bekerja
membandingkan segala detail pada tiap barang dengan barang sebelumnya
yang kamu sudah jatuh hati padanya.

Ya, otak pun kemudian berkonspirasi dengan hati untuk tetap memilih yang aku sudah jatuh hati padanya itu.

Cobalah kamu lupakan sejenak tentang yang membuat hatimu jatuh.
Kamu harus tetap bergerak maju,
mencari yang lain yang mampu membuat hatimu jatuh.

Aku bukan tidak mau,
tapi aku tidak bisa.
Karena pada yang hatiku sudah jatuh itu bukan hanya hatiku yang benar-benar jatuh tapi juga sukmaku.
Dan itu kamu.

Aku?

Mungkin kamu tak tahu.
Bahkan aku tak sadar,
sampai aku selalu membandingkanmu dengannya kemarin.
Kalau itu kamu, kamu pasti akan begini bukan begitu
tapi itu tak dilakukannya.
Benar, aku telah jatuh padamu.

Aku?
Kenapa aku?

Karena ketika aku memasuki toko kehidupan yang baru,
aku menemukanmu di sana
dan aku sudah ingin membawamu pulang
tanpa mencobanya.
Itu saja.

Kita tunggu saja sembari kamu mengitari toko kehidupan ini,
kalau ada yang lebih baik dariku dan mampu membuatmu jatuh lebih dalam,
bawalah dia. Bukan aku.

Bagaimana kalau aku tak menemukannya?

Bawalah aku,
sebuah opsi terakhir.

No comments:

Post a Comment