Saturday, July 20, 2013

Kekerasan Cinta 17+


Sleman, 20 Juli 2013 Gedung Koendjono ramai didatangi orang-orang dari berbagai umur untuk mengikuti sebuah sarasehan. Tema yang diangkat adalah "Membongkar Kekerasan Cinta 17+".

Ketika pertama saya melihat poster sarasehan yang dipost di Facebook oleh Romo Mutiara Andalas, SJ ini, terlintas di benak saya kisah kasih remaja zaman sekarang. Ingat masalah Rasty yang ramai dibicarakan di media massa? Dia seleb, jadi terekspos. Tapi kalau manusia "biasa" seperti kita mana ada yang membahas? Saya ingin tahu bagaimana pandangan ahli tentang ini.

Saya sampai di Kampus II Universitas Sanata Dharma sekitar pukul 8.50, padahal acara dimulai pukul 8.30 (akibat menunggu ojek sampai 30 menit). Sarasehan baru saja dimulai dengan beberapa film-film singkat. Saya dapat dua film. Pertama tentang gadis yang dibully oleh teman-temannya hingga memutuskan untuk bunuh diri, untungnya sempat dicegah. Kedua, cuplikan film India tentang seorang wanita yang melaporkan kekerasan yang dilakukan suaminya yang tidak mendapat dukungan dari para saksi, tapi akhirnya kebenaran pun terkuak.

Ada pula video singkat, wawancara dengan beberapa mahasiswa/i USD dan dua orang dosen. Beberapa menyatakan kekerasan itu dapat berupa fisik dan non fisik, misalnya melalui kata-kata (verbal violence).
Dalam sarasehan ini ada tiga orang pembicara: T. Priyo Widiyanto seorang dosen psikologi USD, Endah Marianingsih Th. seorang dosen Kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, dan Mutiara Andalas, SJ seorang pastor sekaligus pemerhati perempuan (feminism), dengan dimoderatori oleh Bapak Budi (maaf lupa catat nama lengkapnya, Pak).
Bapak Priyo membahas kekerasan ini dari sudut pandang psikologis. Dalam rumah tangga, kekerasan dapat terjadi antara suami-istri dan orang tua-anak. Bapak Priyo lebih banyak berbagi tentang keadaan di rumahnya. "Kebaikan itu bahasa cinta yang dapat didengar oleh orang tuli dan dilihat oleh orang buta. Sayangnya, malah banyak yang tidak tuli buta tidak mendengar dan melihatnya," kata Bapak Priyo.

Sedangkan Ibu Endah menelaah dari sisi kesehatan. Kekerasan secara fisik tidak hanya berdampak dalam waktu singkat seperti memar atau luka. Kekerasan fisik, terutama seksual dapat menyebabkan cacat seumur hidup bahkan kematian. Seperti dijelaskan Ibu Endah, beberapa akibat yang sering terjadi adalah IMS dan HIV-AIDS, aborsi (either safe or unsafe), gizi buruk, ketergantungan NAPZA, kanker, malnutrisi, dan komplikasi kehamilan dan melahirkan. "Jika mengalami kekerasan atau melihat adanya tindak kekerasan, segeralah ke kantor polisi atau puskesmas terdekat untuk dilakukan visum," kata Ibu Endah. Tambahnya, kalau terjadi perkosaan, jangan mandi atau membersihkan tubuh, tapi melaporlah dulu agar bukti-bukti yang ada di tubuh tidak hilang saat divisum.

Romo Andalas dalam sarasehan ini menilik dari sisi sosial. Romo Andalas menyoroti kekerasan yang terjadi melalui sosial media. Sebuah film berjudul Trust menjadi sebuah contoh dari kekerasan karena sosial media. Seorang gadis, Annie, dibohongi oleh seorang pria tentang umur dan latar belakang yang notabene too good to be true. Suatu hari, setelah mereka cukup dekat melalui sosial media, mereka bertemu. Si pria, Charlie, menghadiahi Annie sebuah bikini. Dari situlah sexual harrasment terjadi. "Silakan cari di youtube video ini, karena filmnya tidak masuk Indonesia," kata Romo Andalas. "Cinta dan kekerasan itu hanya one click away," tandas beliau.

Social media is effective at reaching the people beyond the keyboards and microphones and connecting them to important things. -Chris Brogan, Social Media 101



Pada masing-masing sesi dibuka kesempatan bagi peserta untuk tanya jawab dan berbagi. Sayangnya, saya terlalu asik memperhatikan isi diskusi sehingga tidak mencatat siapa saja yang bertanya dan berbagi cerita. Yang saya ingat Ibu Veronika, seorang aktivis perlindungan anak (jika saya tidak salah) berbagi data tentang kekerasan yang dilakukan oleh dan dialami anak-anak di bawah umur. Bahkan ada bocah SD yang melakukan percabulan terhadap bocah usia 3,5 tahun. Bocah tersebut tidak tahu apa yang telah dilakukannya, dia hanya meniru adegan yang ada di tayangan video porno (entah dapat dari mana). Menurut data, ada sekitar 45 kasus yang ditangani oleh Ibu Veronika dan kawan-kawan.

Setelah sarasehan, masih ada banyak hal yang beterbangan di pikiran saya. Kejadian-kejadian yang teman-teman ceritakan dan saya alami sendiri bermunculan kembali. Saya sempat berbagi (dalam sarasehan tersebut) tentang kekerasan cinta dalam sosial media, dengan menjadi cyberstalker kekasihnya bahkan membatasi ruang gerak. Kejadian yang menggelitik sekaligus menjengkelkan, akun Facebook saya diblok oleh akun Facebook murid saya. Well, yang melakukan memang pacarnya karena saya dianggap "membahayakan" hubungan mereka. Funny and weird. :)

Satu hal yang belum saya bagi di sarasehan tersebut, namun ingin saya bagi di sini adalah intimidasi secara verbal yang pernah saya alami. Saya tidak ingin menyebutnya sebagai kekerasan. Secara fisik, puji Tuhan, saya tidak pernah mengalami kekerasan. Hanya suatu hari, saya ke gereja dengan kekasih saya. Seperti biasa, saya ikut bernyanyi. Tiba-tiba kekasih saya membisikkan di telinga saya, "hus, suaramu fales". Terkesan bergurau, tapi mampu membuat saya terdiam. Sejak saat itu, setiap kali saya ke gereja dengannya, saya tidak pernah percaya diri untuk bernyanyi (bukannya tidak mau atau tidak bisa). Bahkan sampai sekarang, saya jarang ikut bernyanyi di gereja. Padahal dulu, satu-satunya tempat saya mau dan percaya diri untuk bernyanyi hanya gereja. Kecil, terkesan sepele, tapi membekas dan mempengaruhi saya sampai saat ini. *just sharing no offense!*


(IMHO), kekerasan -dalam bentuk apa pun, besar atau kecil- akan sangat mempengaruhi kehidupan korban. Hidup, bergaul, dan menjalin hubungan membutuhkan sikap saling menghargai dan menghormati.
-JP-

nb: satu hal yang belum terjawab adalah bagaimana cara menanggulangi kekerasan yang potensi terjadi ataupun sudah terjadi. Mungkin bisa dibahas di next sarasehan. :)


Buku yang didapat dari Sarasehan tadi

2 comments:

  1. Mental tempe!!! Gimana mau ngadepin masalah lbh besar??? Baru dibilang fals sdh tersinggung dan gak diberesin sampe hari ini...PARAH!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh, situ siape ya? Annonymous gitu pake ngatain mental tempe! Tempe goreng enak tauk, apalagi pake sambel pedes gitu. So yummy! *no offense deh ya, kagak kenal sih, jadi ngapain juga nanggepin*

      Delete