Friday, November 22, 2013

Bapak Ibukku Bukan Monyet!

"Kalau kamu mau, aku bisa buat kamu diterima sebagai PNS tanpa harus mengikuti tes," kata pria yang berusia sekitar 10 tahun di atasku itu.

Aku hanya tersenyum. Jujur saja aku kehabisan kata-kata. Pria itu baik; sangat baik. Tak hanya menraktirku makan selama satu minggu ini, tapi juga mengantarku sampai depan gang dengan mobil civicnya -tiap hari selama seminggu.

"Untuk apa kamu terus-terusan menjadi guru di desa? Gajimu tak akan bisa cukup membeli kebutuhan rumah tangga. Kalau kamu jadi PNS, mengajar di sekolah negeri, perekonomianmu pasti terjamin," lanjutnya.

Aku tetap terdiam. Hanya sedang berpikir, apakah aku mengajar demi mendapat uang yang berlimpah? Itu motivasiku? Kalau iya, aku tak ada bedanya dengan monyet-monyet yang memakai seragam, masuk kerja pukul 8 tapi pukul 9 sudah ada di mall. Atau masuk kerja pukul 8, tapi pukul 10 sudah menjalankan bisnis pribadinya yang lain. Terkutuk!

Aku ingat ibukku. Ibuk seorang dosen di sebuah PTN di kota asalku, Semarang. Setiap hari dia ke kampus walaupun tidak ada jadwal mengajar. Katanya, "Hari kerja Ibuk itu Senin sampai Kamis, jam setengah 8 pagi sampai 4 sore. Kalau hari Jumat jam 8 pagi sampai setengah 5 sore, karena istirahat siangnya lebih panjang; untuk Jum'atan." Tak jarang kutemukan ibukku tidur larut. Katanya menyiapkan bahan ajar atau membaca esai mahasiswa mahasiswinya.

Keluargaku bukan keluarga yang berkelimpahan. Gaji Ibukku sebagai PNS pas untuk kebutuhan bulanan, belum termasuk uang sekolah. Untunglah aku dan adikku bisa mendapat beasiswa. Uang pensiunan Bapakku juga tak seberapa. Ya, Bapakku dulu juga PNS.

"Aku ngerti kowe wegah dadi PNS, nduk. Tapi mbok menawa kowe berubah pikiran, dadi PNS sing jujur. Ojo korupsi duit. Ojo korupsi wektu," pesan Bapak sebelum meninggalkan kami karena penyakit paru-paru akutnya.

Bapak dan Ibukku pernah bilang bahwa Pegawai Negeri adalah aparatur Negara, Abdi Negara, dan Abdi masyarakat yang dengan penuh kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara, dan Pemerintah dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan. Hal itu sudah jelas dalam pasal 3 Undang-Undang Pokok-Pokok Kepegawaian.
PNS semacam Bapak dan Ibukku agak sulit ditemukan sekarang. Ada, tapi paling hanya satu dari 100 PNS. Dan yang satu itu pasti hidupnya penuh gejolak -seperti Bapak dan Ibukku.

"Dek," tiba-tiba lamunanku dibuyarkan sentuhan tangan di atas tanganku. Aku masih ada di bangku penumpang di mobil civic dan pria yang menawariku jadi PNS tanpa tes masih ada di belakang setir.
Kusingkirkan tangannya dan aku tersenyum.

"Terima kasih tawarannya. Saat ini aku masih belum ada niat meninggalkan sekolah tempat aku mengabdi sekarang. Tapi kalau suatu saat aku ingin jadi PNS, aku akan mengikuti prosedur yang ada, Mas. Ikut tes. Kalau dari awal saja sudah tidak jujur, aku tidak yakin bisa jujur dalam mengabdi kepada Negara dan masyarakat nantinya. Mas Arya kan juga abdi Negara, besok lagi jangan ke sekolah saya waktu jam kerja ya. Itu kan jam kerja Mas Arya. Jangan korupsi waktu. Terima kasih sudah mengajak makan dan mengantar pulang. Mari, Mas. Berkah dalem," jawabku sambil kemudian turun dari mobil dan masuk gang kecil menuju rumah kosku. Aku tak melihat ke arah Mas Arya sama sekali. Tak berani lihat ekspresinya atas jawabanku yang terlalu berani.

Jessica Permatasari
Yogyakarta, 21 November 2013

No comments:

Post a Comment