Sunday, November 10, 2013

Petunjuk Jalan

Minggu, 10 November 2013 hujan deras mengguyur Yogyakarta bagian tengah. Aku mengurungkan niat untuk pergi pukul setengah satu dan memilih menonton film di kamar kos. Pukul tiga kurang sepuluh menit, teman yang mengundangku ke acara Yogyakarta Open Studio (YOS) menelepon. Aku harus datang katanya. Baiklah, karena hujan sudah reda, aku memutuskan untuk berangkat.

Kemampuan mappingku sampai sekarang belum berkembang. Dengan sedikit was-was kalau-kalau nanti nyasar, aku pacu sepeda motor pinjaman itu ke arah Prambanan. Sampai di Prambanan, katanya diminta cari perempatan Proliman. Berhubung GPS di smartphone tidak bisa menemukan lokasi itu dan GPS di otakku pun tidak berfungsi, aku memutuskan memakai MPS aka Mulut Positioning System aka nanya orang. Kata tukang parkir, perempatan di depan itu perempatan Proliman. Dengan percaya diri aku belok ke kiri, sesuai panduan temanku. Katanya setelah belok akan ada spanduk YOS di kanan jalan. Tapi aku tidak menemukannya. Kukira mungkin masih di depan jadi aku tetap saja memacu motorku semakin ke dalam.

Sudah jauh dan aku belum menemukan spanduknya. Ok, well, sepertinya aku salah jalan. Mau kembali, sudah terlalu jauh. Nanggung, pikirku. Lurus sajalah, toh nanti ada belokan ke kanan lalu ke kanan lagi, pokoknya ke kanan, pasti akan tembus ke jalan besar. Entah jalan besar yang mana. Yang penting bahan bakar motor masih setengah tangki. Dengan lagu dari MP3 yang nonstop menggetarkan gendang telingaku, aku pacu motorku sambil menikmati pemandangan sekitar. Lalu aku mulai meracau tentang segala kegelisahanku.

Aku mulai protes, kenapa aku harus kehilangan orang-orang yang aku percaya menjadi tempat curhatku, yang mampu menuntunku menemukan jalan keluar. Aku protes mengapa tidak ada yang bisa aku percaya untuk mengerti aku. Ketika aku hanyut dalam protes-protesku, Nikita mengalunkan lagu Selidiki Aku. Kemudian aku disadarkan bahwa ada satu yang mampu dipercaya dan mengerti aku: Tuhan Yesus. Lalu kalau Tuhan Yesus mengerti aku kenapa? Toh Dia tidak melakukan apa-apa kan? Dia membantu apa? Memberikan solusi? Apa yang bisa Dia perbuat denganku? Aku tidak segan-segan meneriakkan pertanyaan-pertanyaan kacau itu. Untunglah kanan kiri hanya sawah, jadi tidak perlu takut didengar orang lain.

Setelah berkendara di jalan asing -dengan hamparan hijau sawah di kanan kiri yang menawan- selama sekitar satu jam, akhirnya aku menemukan sebuah petunjuk jalan. Kalau ke kanan ke arah Klaten Kota. Baik, aku belok kanan. Aku berpikir, tadinya aku tidak tahu jalan. Bahkan -jujur saja- aku tidak tahu aku ada di mana. Lalu aku menemukan petunjuk jalan itu -yang pastinya memang sengaja diletakkan di situ untuk memberitahu pengendara-, sehingga aku tahu jalan mana yang harus aku ambil untuk kembali ke Yogyakarta melalui Klaten.

Bukankah itu juga cara kerja Yesus? Dia tidak akan memberikan kita solusi secara langsung, tapi dengan memberikan petunjuk. Tanda.

Lalu sambil meneruskan perjalanan, aku menerka-nerka tanda apa saja yang sudah Yesus berikan padaku -tentunya mengenai hal yang aku risaukan. Sebenarnya ada banyak tanda, tapi aku yang kurang peka bahkan terlalu keras kepala mengikuti tanda tersebut sampai akhirnya tersesat semakin jauh. Untungnya dalam perjalanan kali ini aku percaya pada petunjuk jalan yang ada, sehingga dapat kembali ke Yogyakarta dengan tepat waktu: sebelum  perayaan Ekaristi di Gereja dimulai.

Hanya satu doa yang aku bawa selama perayaan Ekaristi: "buatlah kami (dan aku) untuk semakin mempercayai petunjuk dan tanda yang telah diberikanNya dalam meneruskan perjalanan kehidupan, sehingga tidak tersesat semakin jauh."

note: karena kondisi baterai smartphone tidak memungkinkan untuk mengambil foto petunjuk jalan, jadinya aku googling saja. Foto ini memang tidak sesuai dengan petunjuk yang aku temukan, tapi paling tidak bisa jadi gambaran.

~catatan di hari Minggu yang ditulis setelah nyasar selama hampir dua jam

www.DanSapar.com

No comments:

Post a Comment