Monday, February 17, 2014

Inderaku Harus Mati

Langkah terhenti pada sebuah negeri

Kuhirup racun segar dalam tiap nafas
Racun yang akan selamanya semayam di tubuh
melalui indera penciumanku
Entah apa aku mampu bernafas tanpa racunmu.

Kupandang jauh pesonamu yang mematikan
Setiap senti dirimu tersimpan rapat
dalam bayang di retinaku
Entah apa aku mampu hilangkan bayang pesonamu.

Kudengar alunan deru suara
Melayang menggelitik setiap rongga gendang telinga
menggema tiap detik
Entah apa aku mampu menahan gejolak dari suaramu.

Kukecap inci demi incimu
Merasuk dalam tubuh tanpa dapat dihentikan
menjalar lewat pengecapku
Entah apa aku mampu berhenti mengecupmu.

Kuraba setiap lekukan tubuhmu
Lekukan yang makin lama makin kupahami setiap bagiannya
hingga tak perlu lagi mataku melihat
Entah apa aku mampu bertahan tanpa harus menyentuhmu.

Langkah (lagi-lagi) tersendat di sebuah ujung kota di negerimu
yang mengharuskanku berhenti mengagumimu.
Entah apa aku mampu mematikan seluruh inderaku
yang sudah terasuki candumu.

Singapura, 14 Februari 2014

No comments:

Post a Comment