Monday, May 12, 2014

Buat Kamu yang Enam Belas Tahun Lalu Hadir di Hidupku

Apa kabar kamu yang pernah menyapaku
lewat tulisan di pintu tokoku
dan pernah melemparinya dengan ribuan hadiah?

Seandainya boleh aku berjumpa dan bertatap muka
pasti akan menyenangkan.
Aku bayangkan kamu tampan dan gagah
tapi yang pasti kamu bukan pemberani dan tidak cerdas.

Kamu ingin tahu apa yang akan kulakukan padamu?
Aku tak akan menuliskan pesan untukmu
atau melemparimu dengan hadiah-hadiah.
Malah mungkin aku hanya akan memelukmu.

Tapi sebelum aku memelukmu, izinkan aku bertanya
waktu itu kenapa kamu sebut aku dan saudara-saudaraku asu?
Seasu itukah kami buatmu?
Apa yang membuat kami seperti seekor asu?

Ah, tak guna membahas itu.
Aku ingin berdamai denganmu karena aku paham
waktu itu bukan kamu yang mengasukan kami.
Tapi jangan harap aku berdamai dengan orang yang membuatmu mengasukan kami.

Orang? aku tak yakin dia orang.
Mungkin dia asu.
Ah, menurutku dia bukan asu.
Panggilan asu terlalu beradab untuknya.

Ya, enam belas tahun cukup lama untuk memaafkan
tapi tak cukup singkat untuk melupakan.
Peyokan di pintu toko karena hadiah batu darimu dan pesan singkatmu yang berbunyi "Tionghoa asu"
akan terus terpatri dalam ingatan dan hati.

Kami keturunan Tionghoa
lahir dan besar di Indonesia
darah kami merah, tulang kami putih
pun kami adalah merah putih!

Yogyakarta, 12 Mei 2014

*saat itu aku tinggal di Semarang. Tidak terlalu parah memang; tidak separah di Jakarta dan Solo, tapi tetap saja membuat suasana saat itu tegang selama berhari-hari

salah satu ruas jalan yang harus kulewati sepulang sekolah - Jalan Ronggowarsito, Semarang

No comments:

Post a Comment