Monday, September 8, 2014

8 September 2014

Dua bulan lebih empat hari sudah aku tinggal di sini. Sebuah tempat yang terlihat tenang tapi menyimpan misteri dan duka. Sebuah tempat dengan alam yang menakjubkan. Sebuah tempat yang sedang diperjuangkan.

Aku datang dengan sebuah tujuan yang sudah sangat jelas: mengembangkan pendidikan. Aku datang dengan idealisme yang kuat: setiap anak harus bisa sekolah.

Sebelum aku datang, aku sudah banyak dengar cerita kurang menyenangkan tentang pendidikan di sini. Banyak anak tidak sekolah. Banyak sekolah tidak ada guru. Banyak guru hidup tertatih. Tidak semua yang aku bayangkan (berdasar cerita-cerita itu) benar, karena sebagian besar lebih miris dari yang aku bayangkan.

Ya, banyak anak tidak sekolah. Kenapa? Anak harus jalan berkilo-kilo meter dari rumah. Di tengah jalan bertemu kawan yang tidak sekolah (mungkin karena tidak disekolahkan oleh orang tua mereka), diajak untuk tidak sekolah.

Ya, banyak sekolah tidak ada guru. Banyak guru dari pegawai negeri sipil, tapi tidak berlaku layaknya pegawai negeri yang baik. Maaf, bukan ingin menjelekkan, tapi ini kenyataan. Mereka memilih tidak mengajar, lalu melakukan bisnis sampingan. Toh gaji mereka utuh. Mental mereka mental uang. Alhasil hanya ada guru-guru yang memang berhati pendidik. Ada, tapi tidak banyak. Bahkan kebanyakan hidup mereka tertatih. Uang bukan yang utama bagi mereka.

Miris. Bahkan satu sekolah yang sempat aku datangi tidak punya guru. Tercatat ada sekitar 8 guru dan 1 kepala sekolah. Kepala sekolah selalu sakit, entah sakit apa. 8 guru tidak pernah hadir. Hanya ada satu guru bantu, bukan PNS, tidak terima gaji. Setiap hari dia datang, mengajar kelas 1 sampai 6. Tanpa upah. Sukarela. Andai boleh, aku ingin bantu ajar di sana.

Di beberapa sekolah yang aku datangi sebagian besar anak masih terbata-bata saat membaca, bahkan belum bisa baca walaupun sudah kelas 5. Menurutku bukan IQ rendah yang sebabkan itu. Pola pembelajaran di sekolah yang kurang tepat, dan pola belajar di rumah yang belum diterapkan dengan baik. Sebagian besar anak-anak, sepulang sekolah hanya bermain atau diminta membantu di kebun atau beri makan babi. Tidak ada waktu mengulang pelajaran.

Di hari aksara internasional ini, aku berharap yang aku lakukan di sini menurunkan tingkat buta aksara. Aku berharap guru-guru semakin tersadar akan besarnya tanggung jawab mereka. Aku berharap orang tua semakin paham pentingnya belajar di sekolah DAN rumah bagi anak. Aku berharap dua atau tiga tahun ke depan, tempat ini sudah tidak disebut lagi "kantong buta aksara". Aku berharap akan semakin banyak mata hati yang tercelik untuk mendidik di sini. Aku berharap semua orang bisa melek aksara. Bukan harapan yang mudah, tapi bukan juga harapan yang tidak mungkin. Semua mungkin jika kita mau berusaha dan biarkan tangan Tuhan bekerja melalui kita.

Selamat hari aksara internasional. Dunia lebih baik saat melek aksara.

Salam dari Wamena, Kab. Jayawijaya, Papua, Indonesia.

No comments:

Post a Comment